Jumat, 18 November 2011
Selasa, 08 November 2011
Mizobata Junpei"s profile
- Name: 溝端淳平
- Name (romaji): Mizobata Junpei
- Profession: Actor
- Birthdate: 1989-Jun-14
- Birthplace: Wakayama, Japan
- Height: 175cm
- Weight: 63kg
- Star sign: Gemini
- Blood type: A
- Talent agency: Ever Green Entertainment
TV Shows
- Mitsu no Aji ~A Taste Of Honey~ (Fuji TV, 2011)
- Saigo no Kizuna: Okinawa Hikisakareta Kyodai (Fuji TV, 2011)
- Meitantei Conan Season 1 (YTV, 2011)
- BOSS 2 (Fuji TV, 2011)
- Detective Conan SP 3 (YTV, 2011)
- Akai Yubi ~ Shinzanmono Kaga Yuichiro Futatabi (TBS, 2011)
- Honto ni Atta Kowai Hanashi Sakebu Haibyoin (Fuji TV, 2010)
- Shinzanmono (TBS, 2010)
- Shaken BABY! (Fuji TV, 2010)
- Buzzer Beat (Fuji TV, 2009)
- BOSS (Fuji TV, 2009)
- Akai Ito (Fuji TV, 2008)
- Hanazakari no Kimitachi e SP (Fuji TV, 2008)
- Hachi-One Diver (Fuji TV, 2008)
- Fukidemono to Imoto (TV Asahi, 2008)
- Hanazakari no Kimitachi e (Fuji TV, 2007)
- Seito Shokun! (TV Asahi, 2007)
Movies
- High School Debut (2011)
- Kimi ga Odoru, Natsu (2010)
- Neck (2010)
- Half Way (2009)
- Akai Ito (2008)
- DIVE!! (2008)
Endorsements
- Akai Ito x POCKY (2008)
- Ippei Chan Yaki Soba (2009~2010)
- Right On Clothing
Recognitions
- 2009 2nd Tokyo Drama Awards: Newcomer Award (Akai Ito)
Dong Mu
Judul : Dong Mu
Penulis : Jamal
5 Juli 2006,
Korea Utara meluncurkan tujuh rudal percobaan. Rudal itu jatuh di perairan
antara laut Jepang dan Semenanjung Korea. Seluruh dunia gempar karena khawatir
rudal tersebut berhulu ledak nuklir. Insiden internasional ini membuat badan
International Atomic Energy Agency (IAEA), salah satu organ PBB untuk urusan
energi nuklir yang bermarkas di Wina segera mengambil langkah strategis sesuai
tanggung jawabnya sebagai badan yang mengawasi pemanfaatan energi nuklir.
Eero
Heiskanen , kepala Departemen of Safeguards IAEA menugasi Herman, satu-satunya
staff IAEA asal Indonesia yang bekerja di departemen tersebut untuk berangkat
ke Korea guna menyelidiki ada tidaknya hulu ledak nuklir yang terpasang di
rudal percobaan tersebut.
Di Seoul
Herman bergabung dengan Kang Jin Sob, counterpart-nya di Korea Atomic Research.
Ia juga bertemu dengan kawan lamanya, Prof Rukayadi – mikrobiolog Indonesia
yang bekerja dan mengajar di sebuah Universitas di
Seoul. Belum lagi Herman dan Kang
Jin Sob melakukan tugas resminya tiba-tiba Herman memperoleh informasi kalau
Robert Campbell, agen CIA yang sedang menyamar menjadi agen IAEA diculik oleh
Kim Song Gi, agen intelejen Korut yang korup. Kim menuntut nyawa Robert Campbell
ditukar dengan 50 kg uranium, jumlah yang cukup untuk dipasangkan di dua rudal
berhulu ledak nuklir.
Tanpa diduga
Kim menginginkan Herman sebagai mediatornya. Karena menyangkut warga negara
Amerika maka markas tentara Amerika di Seoul
menugaskan Mayor Snyder menyusun misi penyusupan
ke Korut untuk pembebasan Robert Campbell. Untuk itu Mayor Snyder membentuk tiga tim (A,B,C), Herman, Prof
Rukayadi, Kang Jin Sob, dan Park Yong Chul,
seorang tentara korsel, masuk dalam Tim C yang bertugas untuk mengiriman
uranium ke sarang penculik.
Belum lagi
operasi yang dipimpin Mayor Synder menjalankan tugasnya, tiba-tiba pihak
Pentagon membatalkan rencana operasi tersebut. Pentagon memiliki rencana lain,
mereka menginginkan operasi militer besar-besaran dari wilayah Korea Selatan
untuk membebaskan Campbell. Tentu saja ini beresiko memancing perang terbuka
dan memicu pihak Korut untuk menggunakan rudal nuklirnya. Pihak Korsel sendiri
tampaknya keberatan dengan operasi militer ini.
Sebuah ide
gila tiba-tiba muncul di benak Prof Rukayadi. Ia mengusulkan untuk menyusup
secara diam-diam ke Korut dan membebaskan Robert Campbell mendahului operasi
militer Amerika. Jika mereka berhasil membebaskan Campbell, tentu saja tidak
diperlukan lagi operasi militer besar-besaran. Jika tidak berhasil, nyawa
mereka taruhannya dan kemungkinan terjadinya perang dan Korut menggunakan rudal
nuklirnya semakin terbuka.
Ide gila ini
akhirnya dilaksanakan, Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, Park Yong Chul menyusup ke wilayah Korut dengan membawa 25 kg
uranium (setengah dari yang dituntut si penculik). Petualangan yang benar-benar
berbahaya. Diantara keempat orang ini hanya Park Yong Chul yang berlatar belakang militer dan mahir
menggunakan senjata, sementara yang lainnya hanya bermodalkan tekad dan
keberanian semata.
Kisah diatas
adalah inti cerita dari Dong Mu , novel ke 5 dari novelis produktif – Jamal - ,
karya-karya sebelumnya yang telah diterbitkan adalah Lousiana-Lousiana
(Grasindo,2003), Rakkaustarina (Grasindo,2004), Fetussaga (Grasindo, 2005),
Epigram (Gramedia, 2006), dan yang akan segera terbit, novel ke 6-nya yang
berjudul : Darul (Bentang Pustaka).
Jamal yang
kerap mengambil setting luar negeri di tiap novel-novelnya kini mengajak
pembacanya berkelana ke negeri ginseng Korea. Berbeda dengan novel-novel
terdahulunya yang kerap berlatar belakang kisah cinta, dan geger budaya
tokoh-tokohnya selama hidup di luar negeri, kini Jamal menghadirkan kisah
petualangan spionase yang dibalut dengan krisis nuklir di semenajung Korea.
Seperti
halnya tokoh Herman, dan kawan-kawannya dalam novelnya ini yang nekad
melakukan misi berbahaya, Jamal yang dalam kesehariannya mengajar sebagai dosen
desain interior di sebuah univeritas swasta di bandung termasuk penulis yang
nekad mengarang sebuah cerita tentang krisis nuklir. Sebuah tema yang jauh dari
kesehariannya dan juga juga tema jarang atau bahkan tidak pernah
disentuh oleh pengarang kita yang lain.
Selain
ceritanya yang seru, novel ini banyak menyajikan dialog-dialog yang menambah
wawasan pembacanya dalam hal nuklir.
Salah satu keistimewaan jamal dalam novel-novelnya adalah menyajikan
materi-materi yang tampaknya berat menjadi ringan karena dikemas dalam bentuk
dialog antar tokoh-tokohnya. Demikian pula dalam Dong Mu, semua yang ingin
disampaikan jamal pada pembacanya dikemas dalam dialog yang ringan dan mudah
dipahami.
Dong Mu
sendiri adalah frasa dalam bahasa Korea yang bisa berarti Kamerad, atau juga
bisa diartikan sebagai teman. Judul yang tepat
karena memang novel ini menceritakan pertemanan Herman dengan Prof Rukayadi dan
sepak terjangnya dalam membebaskan seorang agen CIA yang diculik atas perintah
Dong Mu (Kamerad) Kim Song Gi.
Salah satu
yang menarik dalam novel ini adalah materi tentang kebijakan nuklir, baik
kebijakan di negara-negara maju pemilik senjata nuklir, juga kebijakan nuklir
di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Dalam novel ini terungkap bahwa Indonesia sebenarnya memiliki tambang uranium
di Kalimantan Barat, namun kita hanya bisa menggalinya untuk kemudian diekspor
ke negara maju. Sayangnya "…petinggi negeri kita dan masyarakat belum
melihat nuklir sebagai energi alternatif, karena kita masih punya yang lain
seperti gas alam atau panas bumi yang melimpah…..Padahal bila dipakai energi
listrik, tidak akan terjadi byar pet seperti yang selama ini terjadi. Energi
nuklir itu sangat efisien. " (hal 32) .
Pembangunan
reaktor nuklir di negara berkembang jika dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan
memang sangat bermanfaat, namun energi nuklir juga memiliki resiko yang besar
jika dikelola dengan serampangan. Untuk itu melalui tokoh Herman dalam
makalahnya yang disampaikannya di Konferensi Energi Nulir di Wina Austria
terungkap bahwa pembangunan nuklir di negara berkembang memiliki resiko karena
umumnya disiplin dan etos kerja yang relatif lemah . Kelemahan ini bagi
reaktor nuklir sangat berbahaya karena diperlukan rutinitas dengan disiplin
tinggi untuk pengawasan dan pemeriksaan instalasi. (hal 52).
Disinggung
pula bahwa negara-negara berkembang yang tidak memiliki energi minyak sangat
layak menerima bantuan dan kesempatan dalam mengurangi ketergantungan kepada
minyak, dengan demikian utang mereka akan berkurang, dan itu artinya kemakmuran
bangsa dan neraga miskin dapat diraih. (hal 53).
Selain
tentang kebijakan nuklir dan manfaat pembangunan nuklir di negara-negara
berkembang, novel ini mengungkap pula soal diplomasi nuklir, pertikaian politik
tingkat dunia sehubungan dengan ambisi pengembangan nuklir, pasar uranium
gelap, peta rudal-rudal yang dimiliki Korut, lanskap daerah perbatasan korea
utara dan selatan, kritik terhadap kebijakan politik Amerika, dll. Dan yang tak
kalah menarik adalah kisah petualangan Herman dan kawan-kawannya menyusup ke
Korea Utara. Dalam hal ini jamal menyajikannya dengan seru, lengkap dengan
kejutan-kejutan di akhir cerita seperti novel2 spionase umumnya.
Kehadiran
tokoh Prof. Rukayadi sebagai sahabat Herman yang bekerja sebagai mikrobiolog
juga turut menyemarakkan novel ini, selain sedikit disinggung soal penelitian
kandungan berbagai tanaman indonesia yang digunakan sebagai jamu , Prof
Rukayadi dengan keahliannya sebagai mikrobiolog juga turut berperan penting
dalam operasi penyelamatan Robert Campbell.
Hanya saja
awal keterlibatan Porf Rukayadi dalam operasi ini terlihat sedikit dipaksakan. Saat
Herman dijemput oleh pihak militer Amerika untuk dibawa ke Yongsan, Herman
mendesak agar Prof Rukayadi ikut menemaninya. Hal ini langsung disetujui oleh
orang yang menjemput Herman tanpa berkonsultasi dengan atasannya. Sungguh
tindakan yang ceroboh bagi sebuah operasi intelejen. Padahal untuk operasi
rahasia yang melibatkan CIA, Amerika, dan militer Korea Selatan, rasanya tak
mungkin dapat dengan begitu saja melibatkan orang seperti Prof Rukayadi yang
jelas-jelas kehaliannya berbeda dengan operasi ini. Namun untunglah
kejanggalan ini kelak tertutupi oleh peran penting Prof Rukayadi dalam
menjalankan operasi ini.
Satu lagi
yang mungkin terasa kurang digali dalam novel ini adalah dampak lingkungan
akibat kebocoran reaktor nuklir dan senjata nuklir. Tampaknya novel ini lebih
condong ke arah politik dibanding ke dampak lingkungannya. Jika saja Jamal
memberikan deskripsi yang agak detail untuk
kerusakan lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan dampak lingkungan jika
sebuah negara melakukan uji coba rudal berhulu ledak nuklir, tentunya novel ini
akan semakin lengkap, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui soal kebijakan
dan pertikaian nuklir tapi mengetahui juga akibat bagi lingkungan yang rusak
dari pemanfaatan energi nuklir yang salah.
Di novel
kelimanya ini juga, tampaknya Jamal meninggalkan ciri khasnya di keempat novel
terdahulunya. Biasanya Jamal selalu menyelipkan unsur-unsur desain bangunan
atau produk dalam tiap novelnya. Di novel Dong Mu,
ciri khas Jamal ini tak muncul, padahal ada yang sedikit bisa diangkat seperti
desain lokal/tradisional di korea seperti istana, atau mungkin
bangunan-bangunan modern yang terdapat di korea dll.
Terlepas
dari kekurangan diatas, novel ini secara umum sangat bermanfaat dalam memperluas
cakrawala berpikir pembacanya dalam hal kebijakan nuklir . Selain itu melalui
tokoh utama dalam novel ini, yaitu Herman sebagai lulusan Fisika Kuantum di
Universitas Tokyo yang bekerja sebagai staff IAEA, dan Prof Rukayadi sebagai
mikrobiolog yang bekerja dan mengajar di Korea Selatan tentunya akan membangun
kesadaran pembacanya bahwa cendekiawan Indonesia ternyata bisa juga berkiprah
dan diakui kepakarannya di negara-negara maju.
Tokoh Herman
dan Prof Rukayadi bukanlah tokoh fikif, mereka benar-benar tokoh riil yang
‘dipinjam’ Jamal untuk menghidupkan novelnya ini. Herman adalah karakter dari
Suhermanto Duliman yang kini bekerja di Nuclear Safeguards Inspector
International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina Austria. Sedangkan Prof Rukayadi,
adalah karakter dari Yaya Rukayadi, seorang microbilogist, dan penerima Seoul
Honorary Citizenship, yang kini tinggal dan mengajar di Seoul Korea Selatan.
Apa yang
diangkat oleh Jamal dalam novelnya kali ini, baik soal nuklir dan kiprah
manusia Indonesia di negara maju patutlah
dihargai. Tak heran jika novel ini mendapat apresiasi yang baik dari Kusmayanto
Kardiman, selaku Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam
endorsmentnya Menristek Kusmayanto menulis bahwa : "….buku ini
mengasyikan untuk dibaca sampai tamat dan pembaca akan dapat banyak pelajaran
dan kebanggan dari kisah kiprah anak-anak Indonesia yang berkarya nyata di luar
negeri, khususnya Korea".
Langganan:
Komentar (Atom)














