TITTLE: AM I DREAM
AUTHOR: DEAFRILEE
GENRE: FANTASY
CAST: Lee Hyuk Jae As Eunhyuk, Jung Krystal As Krystal, Atsuko Mikazu As Mikazu, amd many more.
PART 1 OF ?
Full story ini sepenuhnya milik saya kecuali para castnya. Seluruh cast adalah milik Tuhan kecuali Eunhyuk. Eunhyuk seutuhnya milik Tuhan yang dianugrahkan kepada saya HAHAHA.
DON'T COPY PASTE! IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ!
Sebuah boneka usang terduduk diantara jajaran boneka boneka lucu nan cantik . Poni rambutnya yang panjang menutupi dahinya. Tertunduk layu, seperti sedang meratapi nasibnya "Mengapa tidak ada yang datang? aku kesepian disini". Tidak, boneka ini tidak terlalu buruk. Boneka ini berwujud gadis mungil dengan rona merah di pipinya. Mata biru dan tambut blonde nya terlihat amat menggemaskan. Kelemahannya hanya pada pakaian yang ia gunakan kuno dan terlihat usang.
========================================================================
"Harabeoji!!! Aku pergi dulu" teriak seorang gadis mungil rambutnya yang di kuncir kuda. Manis sekali.
========================================================================
"Harabeoji!!! Aku pergi dulu" teriak seorang gadis mungil rambutnya yang di kuncir kuda. Manis sekali.
"Hati- hati dijalan!!"
Jung Byung In, seorang kakek dengan rambut yang hampir putih semua itu keluar kamarnya menyaksikan kepergian cucu kesanyangannya. Jung Byung In adalah pengusaha di bidang industri yang sudah cukup mempunyai nama dari kalangan atas sampai kalangan menengah. Entah sudah berapa cabang yang ia miliki di kota kota besar di korea selatan. Namun sayang istri serta anak dan menantunya sudah tiada. Kecelakaan pesawat 3 tahun lalu sukses membuat ia kehilangan keluarganya. Yang tersisa hanya Jung Krystal, cucu pertamanya. Ia sangat menyayangi Krystal, karena hanya tinggal Krystal yang tersisa. Gadis malang itu juga hanya mempunyai satu anggota keluarga, yaitu kakeknya.
Jung Krystal, gadis berumur 20 tahun ini adalah satu murid jurusan sastra di salah satu universitas terkenal di kota seoul. Ia adalah gadis yang tegar. Ia sama sekali tidak pernah menyalahkan Tuhan karena telah mengambil ayah dan ibunya. Baginya semua yang telah terjadi memang sudah takdir. Takdir yang sudah Tuhan tuliskan dalam lembaran kehidupan yang akan Krystal jalani.
Pukul 16.00 Krystal berdiri di halte untuk menunggu subway yang akan membawanya pulang. Halte tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang disana. Krystal membuka tasnya meluarkan mp3 berwarna pink dengan earphone elegan berwarna putih. Benda ajaib inilah yang selalu menghibur Krystal disaat jenuh. Ia memasang earphone itu ditelinganya. Membuka playlist lalu menekan tombol play. Semua lagu di mp3nya adalah lagu favoritenya. Krystal mulai memainkan kakinya mengikuti alunan lagu.
"Harabeoji aku pulang~" Krystal berlari kecil masuk kedalam rumah begitu melihat sosok pria tua yang sedang bersantai di atas sofa yang tidak lain adalah kakeknya.
"Kau sudah pulang? Ah syukurlah kau cepat pulang. Harabeoji ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ah benarkah? kita akan kemana harabeoji?" Krystal menjawabnya dengan nada tinggi. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraanya. Jarang sekali harabeoji mengajaknya keluar rumah. Dan tak tahu kapan terakhir kali harabeoji mengajaknya pergi. Mungkin saat akhir tahun, itupun hanya pergi ke makam Halmeoni, Appa, dan Eomma saja.
Ya mungkin faktor umur yang menyebabkannya jarang sekali keluar rumah.
"Kau akan tahu nanti. Yang jelas sekarang kau ganti baju dulu. Harabeoji akan minta tolong pada Byungshin untuk memanaskan mobil"
Krystal melompat girang sambil berlari kekamarnya. Walaupun tubuhnya merasa lelah tapi perasaan itu sekarang sudah terbang entah kemana.
Krystal memilih sebuah minni dress berwarna cream dengan renda renda cantik dibagian bahu. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan tambahan bandana berpita merah.
========================================================================
Sekarang Krystal dan kakeknya sudah berada di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumput yang sudah mulai meninggi memperlihatkan bahwa rumah ini sudah ditinggal cukup lama oleh pemiliknya.
"Krystal ayo kita masuk" Harabeoji mengambil langkah terlebih dahulu untuk masuk. Denyitan suara daun pintu yang terbuka menyambut mereka. Krystal memperhatikan isi rumah itu. Ada sebuah bingkai foto besar yang terpajang di ruangan itu. Krystal merasa tidak asing dengan orang yang berada di photo itu. Ya, tentu saja ia ingat. Photo itu memajang gambar Appa dan eommanya dengan menggunakan pakaian pengantin. Appanya terlihat elegan dengan jas putih dan dasi kupu kupu hitam sedangkan eommanya terlihat anggun dengan gaun putih panjang dengan bahu terbuka.
"Harabeoji ini dimana?" Krystal tak berani menatap ke arah kakeknya itu. Ia sedang menahan butiran air yang ada disudut matanya yang mungkin sebentar lagi akan mengalir keluar membasahi pipinya.
"Krystal ayo kita masuk" Harabeoji mengambil langkah terlebih dahulu untuk masuk. Denyitan suara daun pintu yang terbuka menyambut mereka. Krystal memperhatikan isi rumah itu. Ada sebuah bingkai foto besar yang terpajang di ruangan itu. Krystal merasa tidak asing dengan orang yang berada di photo itu. Ya, tentu saja ia ingat. Photo itu memajang gambar Appa dan eommanya dengan menggunakan pakaian pengantin. Appanya terlihat elegan dengan jas putih dan dasi kupu kupu hitam sedangkan eommanya terlihat anggun dengan gaun putih panjang dengan bahu terbuka.
"Harabeoji ini dimana?" Krystal tak berani menatap ke arah kakeknya itu. Ia sedang menahan butiran air yang ada disudut matanya yang mungkin sebentar lagi akan mengalir keluar membasahi pipinya.
"Ini rumahmu sayang. Tepatnya ini rumah orang tuamu. Mereka tinggal disini begitu menikah. Dan ada yang ingin harabeoji sampaikan padamu" Kakek tua itu menarik nafasnya dalam dan berjalan mendekati cucunya.
"Kau akan tinggal disini. Harabeoji percaya padamu kau bisa mengurus dirimu sendiri. Harabeoji sudah terlalu tua untuk menemanimu sayang, jika akan terus seperti ini harabeoji bukannya akan menemanimu malah akan merepotkanmu. Harabeoji juga bukannya ingin meninggalkanmu sendirian disini, tapi harabeoji tau jika kau juga pasti akan menolak jika harabeoji mengajakmu untuk tinggal di jepang bersama Byungshin ahjussi dan keluarganya. Harabeoji tau tempat ini adalah satu satunya kenangan bersama orang tuamu. Jadi mulai minggu depan kau akan tinggal disini dan harabeoji akan pergi ke jepang. Jika kau ingin datang berkunjung ke jepang tentu saja boleh. Dan untuk menemanimu disini harabeoji mengijinkanmu untuk mengajak temanmu tinggal disini. Soal kebutuhanmu harabeoji sudah siapkan semuanya. Lalu...." Belum selesai dengan ucapannya Krystal sudah memeluk pria tua itu. Air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tidak jatuh akhirnya mengalir deras. Isakan memilukan keluar dari bibir mungilnya. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun. Kesedihan itu sudah seperti menyekap mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Ia terus menangis sejadi jadinya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Disatu sisi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mematuhi semua keinginan kakeknya tapi disatu sisi ia juga tidak ingin tinggal sendiri tanpa kakek kesayangannya itu.
"Sangat berat untukku meninggalkan mu sendirian disini. Tapi aku akan merasa teramat berat lagi jika kau tinggal denganku. Aku kakek tua yang sudah sakit sakitan. Kakek tua yang ingin cucunya bahagia. Kakek tua yang tidak ingin merepotkan cucunya sama sekali. Aku juga tidak ingin kau sedih. Dan sekarang aku malah membuatmu bersedih. Lalu apagunanya hidupku ini"
"Harabeoji... mianhae...akulah yang seharusnya merasa merepotakan harabeoji. Aku yang sudah membuat harabeoji repot karena mengurusku sampai seperti ini. Sekarang aku mau harabeoji bahagia. Aku mau harabeoji hidup tenang menikmati masa masa tua harabeoji. Aku akan turuti semuanya. Aku akan hidup dengan baik disini. Harabeoji juga harus hidup dengan baik dijepang. Aku tidak akan mengecewakanmu harabeoji"
Untuk beberapa saat suasana di rumah itu terasa mencekam. Suara tangisan memilukan Krystal seakan membuat langit juga bersedih. Hujan turun begitu lebat. Langit gelap, suara guntur, kilatan petir, dan angin kencang diluar rumah menandakan sesuatu akan terjadi. Seorang malaikat tampan turun dari langit. Mengepakan sayap indahnya mendarat dengan penuh karisma. Terdiam sejenak seakan mendengar tangisan memilukan dari seorang gadis. Memperhatikan dari luar rumah seakan tau apa yang dari tadi terjadi. Suatu takdir telah dituliskan. Suatu takdir yang sudah dituliskan Tuhan di atas selembar kertas kehidupan Krystal.
Di ruangan lain di dalam rumah itu sebuah boneka usang dengan poni yang menutupi sebagian matanya menangis. Ia seakan berdoa kepada Tuhan untuk meminta seseorang datang dan bermain bersamanya. Sudah berapa lama ia menunggu orang datang keruangan itu melihatnya dan mengajaknya bermain. Semenjak pemilik aslinya meninggal sudah tidak ada lagi yang memperlakukannya seperti itu. Ia tau ia hanyalah sebuah boneka usang yang tidak berguna. Disampingnya masih berjejer rapih boneka boneka cantik lain. Orang yang melihat boneka boneka itu pasti akan memilih salah satunya dan yang pasti bukan dirinya. Walaupun ia hanya boneka tapi ia bukan boneka biasa. Dari luar ia sama seperti boneka biasa yang membedakan adalah ia memiliki perasaan seakan akan dirinya adalah mahkluk hidup. Tubuhnya tidak bergerak tapi hatinya bisa merasakan matanya bisa melihat dan telinganya bisa mendengar.
========================================================================
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian memilukan itu. Tapi kini mata Krystal kembali membengkak. Ia menangis saat mengantar kakeknya kebandara. Sekarang ia hanya sendirian dirumahnya. Rumah tempat ia menangis pada waktu itu. Dan kini dirinya merasa ingin menangis lagi. Ia menuju ke sebuah kamar yang ia pilih sebagai kamarnya. Kamar dengan sebuah tempat tidur, lemari pakaian besar, meja rias, dan rak boneka super besar. Rak itu dipenuhi boneka boneka lucu dengan berbagai ukuran. Krystal membaringkan tubuhnya menatap langit langit kamarnya. Hari ini adalah hari dimana ia akan memulai hidup sendiri tanpa kakeknya.
"Baiklah! Aku sudah terlahir sebagai orang yang kuat. Aku tidak boleh manja. Tapi apa aku bisa hidup sendiri?" Krystal merenggut bantal disampingnya, memeluk bantal itu dengan erat sambil memejamkan matanya. Sementara diluar suara guntur membahana disertai hujan lebat. Krystal bergidik, ia ingat bahwa jendela kamarnya tidak tertutup. Pantas saja diirinya merasa kedinginan. Ia bangkit dan menuju ke arah jendela. Udara dingin langsung menusuk kulitnya. Jendela sudah tertutup. Krystal berbalik dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berada di kamarnya. Tangannya bergetar, jantungnya berdugap kencang tak beraturan.
"K....Ka....kau... siapa kau? Kenapa kau bisa berada disini? Masuk dari mana HAH? Kau penjahat ya?! Keluar atau aku akan teriak!!!"
Krystal gemetar. Sebenarnya orang didepannya ini terlihat seperti manusia biasa dan sama sekali tidak ada tampang penjahat.
"Kau takut? Hahaha aku harus menjawab pertanyaan mu yang mana dulu? Baiklah akan aku jawab. Aku Lee Hyukjae. Panggil saja aku Hyukjae. Aku kesini untuk memenuhi tugas ku. Aku adalah malaikat yang dihukum karena kesalahanku. Dan sebagai gantinya aku akan menemani mu dan memenuhi permintaan mu sampai masa hukuman ku selesai. Aku masuk dari sana" Jawab orang itu sambil menunjuk ke arah jendela.
Krystal terbelalak. Apa yang orang itu bilang? Malaikat? Lelucon macam apa itu.
"Malaikat? Kau pikir aku akan percaya begitu saja hah? Baiklah kalau benar kau malaikat turuti permintaanku. Aku ingin kau kembalikan Appa, eomma, dan halmeonni. Aku ingin sekarang juga!" Krystal berbicara dengan nada tinggi, lebih seperti orang yang sedang marah dibandingankan dengan orang yang sedang memohon.
"Tidak bisa. Mereka semua sudah meninggal. Orang yang sudah meninggal mempunyai dunia sendiri. Sebenarnya aku bisa saja menuruti permintaanmu. Tapi itu akan menyebabkan kekacauan karena dunia kalian yang berbeda. Kau ada permintaan lain selain itu? Mobil mewah, wajah yang cantik, atau rumah besar?"
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan itu semua. Aku tidak membutuhkannya sama sekali!" Krystal kembali membentak.
"Hmmm teman. Kau membutuhkan seorang teman kan? Aku bisa memenuhi yang satu itu" orang yang mengaku sebagai malaikat itu melemparkan pandangannya kesekeliling kamar. Dan pandangannya berhenti di rak boneka yang memajang begitu banyak boneka boneka cantik.
"Ah kau boleh memilih salah satu dari boneka boneka itu. Boneka yang kau pilih akan aku jadikan manusia yang menemanimu untuk tinggal disini. Silahkan pilih salah satu"
"Benarkah kau bisa mengubahnya menjadi manusia? Baiklah aku pilih yang itu... ah tidak tidak yang itu saja" Krystal menunjuk ke arah sebuah boneka.
"Astaga. Ada banyak boneka di rak ini yang cantik dan terlihat modern. Dan kau malah memilih boneka usang itu? Kau yakin?" Malaikat itu mendelik melihat boneka usang pilihan Krystal. Krystal hanya mengangguk menandakan kalau ia sudah yakin kalau boneka itu pilihannya.
"Baiklah aku akan menuruti permintaan mu itu. Setelah aku melakukan ini aku yakin kau akan percaya kalau aku ini seorang malaikat"
Orang yang katanya malaikat itu memejamkan matanya dan mengarahkan tangannya ke arah boneka itu. Krystal memperhatikan apa yang orang itu lakukan. Ia hanya bisa mengernyitkan dahinya.
Bersamaan dengan suara guntur, cahaya putih masuk ke ruangan itu dan mengarah ke rak boneka. Dan seketika CRINGGG seorang gadis cantik berambut sebahu dengan poni yang hampir menutupi matanya tiba tiba muncul. Gadis itu juga terlihat mirip dengan boneka yang Krystal pilih. Bajunya yang agak kuno menandakan kalau ia benar benar boneka yang Krystal pilih. Krystal tidak bisa berkata apa apa. Ia tak percaya dengan apa yang baru ia saksikan.
"Hallo krystal" Gadis itu melempar pandangannya ke arah Krystal sambil melambaikan tangannya. Yang di pandang malah kaget karena ternyata boneka itu memang benar benar telah menjadi manusia.
"Ha...ha...hallo. Kau benar boneka yang tadi? Apa aku sedang bermimpi sekarang ini?" Krystal mengerjapkan matanya.
"Kau tidak bermimpi. Aku boneka yang tadi. Namaku Mikazu. Dan terimkasih kau telah memilihku untuk menjadi temanmu. Aku tidak pernah menyangka kau akan memilihku. Untukmu malaikat bodoh, apa maksud mu bilang kalau aku ini boneka usang? " Gadis yang ternyata bernama Mikazu itu menatap ke arah malaikat sambil berkacak pinggang menandakan dirinya benar benar tersinggung dengan perkataan malaikat itu.
"Kau bilang apa barusan? Malaikat bodoh? Dasar boneka jelek. Kalau bukan karena aku kau tidak akan berubah jadi manusia. Kau seharusnya berterimakasih padaku"
Mereka berdua saling bertengkar satu sama lain. Krystal hanya diam karena bingung dengan yang ia saksikan. Seorang malaikat bertengkar dengan sebuah boneka dikamarnya? Yang benar saja!
"Aku tahu kenapa kau dihukum Tuhan. Karena kau itu malaikat bodoh kan! Hahaha pantas saja"
"Hey kau jangan asal bicara!" Malaikat yang bernama Hyukjae itu meninggikan suaranya membuat Krystal menutup telinganyaa.
"Sudahlah kalian jangan bertengkar. Aku pusing mendengarnya. Hyukjae boleh aku bertanya sesuatu padamau?" Krystal menengahi pertengkaran itu.
"Ya boleh. Kau mau tanya apa?" Hyukjae menjawab singkat. Masih kesal dengan apa yang Mikazu katakan tadi.
"Bukankah setiap malaikat itu punya sayap yang indah? Tapi kenapa kau tidak?" Krystal bertanya dengan tatapan polosnya. Ia terlihat sangat menggemaskan dengan tatapan seperti itu. Bahkan Hyukjae saja sampai mengeluarkan semburat merah dipipinya melihat kepolosan Krystal.
"Aku punya. Hanya saja sekarang tidak terlihat" Hyukaje menjawab singkat. Krystal mengangguk percaya.
"Ah sekarang bagaimana kalau kita pergi jalan jalan. Hujan diluar sepertinya sudah reda."
Krystal menuju ke arah pintu kamarnya diikuti dengan Mikazu dan Hyukjae dibelakangnya.
Tak tahu apa yang Krystal rasakan sekarang. Yang jelas ia merasa senang karena mulai sekarang ia tidak akan merasa kesepian lagi.
Mereka berjalan bertiga beriringan. Krystal ditengah sementara Hyukjae disebelah kirinya dan Mikazu disebelah kanannya.
"Krystal kita pulang sebelum gelap ya" Hyukjae memulai pembicaraan.
"Kenapa? Kau takut?" Mikazu ikut menyambar
"Enak saja aku sama sekali tidak takut gelap!"
"Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi. Baiklah kita akan pulang sebelum gelap. Oh iya ngomong ngomong Mikazu berapa umurmu?"
"ibumu memiliki ku kira kira 17 tahun yang lalu. Jadi umurku sekarang sekitar 17 tahun"
"17 tahun? Wah umur suda sekali. Dan kau Hyukjae, berapa umurmu?"
"Aku? Kalian pasti kaget jika tahu berapa umurku. Yang jelas aku diciptakan jauh sebelum nenek dan kakek kalian lahir"
"Ah benarkah? Memangnya berapa umurmu? 100tahun? 200 tahun? Atau satu abad?"
"10abad"
Hyukjae menjawab singkat dan hanya ditanggapi dua orang gadis itu dengan mata terbelalak. 10Abad? Astaga! Orang ini bahkan tidak terlihat setua umurnya. Badannya masih tegap. Matanya masih indah bersinar. Dan ia masih mempunyai pesona yang membuat wanita melirik ke arahnya. Ia terlihat masih sangat gagah.
Waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah mulai gelap. Ketiga orang itu menuju pulang kerumah. Hyukjae terlihat sedikit gelisah. Tak tahu apa yang membuatnya seperti itu yang jelas Krystal berhasil dibuat bingung dengan sikapnya.
"Ah Krystal apa ada jalan yang tidak terlalu ramai menuju rumah"
"Ada. Kau mau lewat sana? Kau tampak gelisah. Ada apa sebebnarnya?" Krystal sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia yakin pasti ada sesuatu yang membuat Hyukjae bersikap aneh.
"Nanti kau pasti tahu. Yang jelas aku ingin sekarang kita lewat jalan yang tidak terlalu ramai saja. Aku tidak mau terlihat aneh"
Krystal hanya mengangguk. Akhirnya mereka bertiga melewati jalan pintas yang tidak telalu ramai. Bahkan bisa dibilang sepi. Hanya satu dua orang saja yang terlihat lewat jalan itu.
Krystal dan Mikazu menunggu Hyukjae yang entah sedang melakukan apa. Di tengah perjalanannya Hyukjae
berhenti di depan sebuah gang kecil. Ia meminta Krystal dan Mikazu menunggunya sedangkan Hyukjae masuk ke dalam gang.
Krystal dan Mikazu hanya bisa diam karena terkejut dengan apa yang mereka lihat. Mata mereka membulat dengan mulut terbuka membentuk huruf O semepurna. Didepan mereka Hyukjae hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya merasa kalau dirinya sangat aneh saat itu.
"Kau...sayapmu itu....." Krystal akhirnya bicara. Ia menunjuk kearah bahu Hyukjae yang kini telah memajang sayap indah khas malaikat. Ia sangat kagum dengan apa yang ia lihat sekarang. Andai saja dirinya itu bisa melukis, pasti sudah ia torehkan kuas diatas kanvas melukiskan betapa indahnya sayap malaikat di depannya itu.
"Aku aneh ya? Ah inilah yang aku maksud. Aku tidak mau melewati jalan yang ramai karena aku takut jadi pusat perhatian. Sayapku ini akan terlihat disaat gelap. Apalagi digelapnya malam seperti sekarang ini. Ah aku merasa sangat aneh sekarang" Hyukjae kembali menggaruk kepalanya
"Aniyo! Kau... kau sangat menganggumkan. Kau sangat keren dengan sayap itu. Sungguh aku begini karena aku kagum pada sayapmu itu. Sekarang baru terlihat kalau kau seorang malaikat. Sungguh sempurna Hyukjae" Krystal berusaha semampunya agar Hyukjae merasa percaya diri dengan sayapnya itu. Dan ucapannya itu membuat Hyukjae sedikit merasa lebih baik dari sebelumnya. Mikazu yang masih bengong melihat Hyukjae hanya mengangguk saja saat Krystal memberikan pendapatnya tadi.
"Gomawo! Kau membuatku merasa lebih baik Krystal. Ayo kita jalan lagi. Aku tidak mau ada orang yang melihatku"
Mereka bertiga akhirnya pulang dengan perasaan saling kagum. Krystal merasa lebih baik saat itu. Kedua orang yang hadir dalam hidupnya sekarang benar benar membuatnya bahagia. Ia berharap kebahagian itu tidak pudar sampai kapanpun. Ia berharap pertemanannya dengan seorang malaikat dan sebuah boneka ini bisa berlanjut. Setidaknya sampai masa hukuman Hyukjae selesai. Walau bagaimanapun Hyukjae juga memberikan pengaruh banyak dalam hidupnya. Membuatnya merasa nyaman dengan kehadiran Hyukjae saat itu. Dan Mikazu, boneka itu juga membuatnya seperti mempunyai sahabat. Mikazu sangat ramah. Dan ia juga orang yang suka mengobrol tentang banyak hal. Krystal tau ia sedang tidak bermimpi tapi sungguh kejadian yang ia alami itu benar- benar sulit diterima akal sehat.
========================================================================
Sudah hampir tiga bulan semenjak peristiwa awal di hari itu. Krystal dan Mikazu kini sudah seperti belahan jiwa. Mereka melakukan segalanya berdua. Tentang malaikat bernama Hyukjae itu..... Ya malaikat itu sudah tidak bersama mereka sejak satu bulan yang lalu. Hyukjae menjalani masa hukumannya dengan sangat baik. Maka dari itu masa hukumannya terasa begitu singkat. Di sela- sela perpisahannya Hyukjae berkata kepada Krystal dan Mikazu
" Jika aku merindukan kalian, aku akan melakukan kesalahan supaya bisa dihukum turun ke bumi dan tinggal bersama kalian lagi"
Hahaha sangat lucu memang. Kata- kata itu masih sangat jelas terngiang di ingatan Krystal dan Mikazu. Ya walau Mikazu sering sekali berdebat dengan Hyukjae, tapi ia sungguh sangat menyayangi Hyukjae sebagai teman dekatnya.
"Krystal apa kau ingat kata- kata terakhir Hyukjae si malaikat bodoh saat ia hendak pergi"
Sudah hampir tiga bulan semenjak peristiwa awal di hari itu. Krystal dan Mikazu kini sudah seperti belahan jiwa. Mereka melakukan segalanya berdua. Tentang malaikat bernama Hyukjae itu..... Ya malaikat itu sudah tidak bersama mereka sejak satu bulan yang lalu. Hyukjae menjalani masa hukumannya dengan sangat baik. Maka dari itu masa hukumannya terasa begitu singkat. Di sela- sela perpisahannya Hyukjae berkata kepada Krystal dan Mikazu
" Jika aku merindukan kalian, aku akan melakukan kesalahan supaya bisa dihukum turun ke bumi dan tinggal bersama kalian lagi"
Hahaha sangat lucu memang. Kata- kata itu masih sangat jelas terngiang di ingatan Krystal dan Mikazu. Ya walau Mikazu sering sekali berdebat dengan Hyukjae, tapi ia sungguh sangat menyayangi Hyukjae sebagai teman dekatnya.
"Krystal apa kau ingat kata- kata terakhir Hyukjae si malaikat bodoh saat ia hendak pergi"
"Ya tentu saja. Ia bilang ia akan melakukan kesalahan agar dihukum untuk turun kebumi agar bisa menemui kita. Hahaha malaikat yang satu itu bagaimana ia mengatakan hal aneh seperti itu"
"Ya. Dia itu memang benar benar malaikat bodoh." Mikazu mengambil nafas dalam dan menghempaskannya
"Sepertinya ia tidak merindukan kita. Sampai sekarang ia belum juga datang mengunjungi kita" Mikazu menundukan kepalanya.
" Kau merindukannya Mikazu?"
Mikazu hanya mengangguk lemah. Ia sedang menahan butiran air mata yang sudah menyelimuti sudut matanya. Ia tidak ingin air mata itu jatuh membasahi pipinya " Mikazu, aku juga sangat merindukannya. Jika aku bisa menahannya untuk tidak pergi, mungkin kemarin itu aku sudah melarangnya. Tapi, ia bukan manusia. Ia mempunyai tugas yang amat mulia sebagai malaikat. Kita harus bisa memahaminya. Sekarang.mintalah kepada Tuhan agar Hyukajae diberikan kesempatan untuk bertemu dengan kita"
Krystal mendekati Mikazu yang masih menunduk lemas. Krystal memeluknya dan menepuk nepuk bahunya lembut. Air mata kini sudah turun membasahi pipi mulus Mikazu. Ia sangat amat merindukan sosok malaikat itu. Ia berdoa agar suatu saat nanti bisa bertemu dengannya lagi.
========================================================================
Di pagi yang cerah itu, Krystal dan Mikazu sudah berdiri di depan halte subway. Mereka berdua berencana untuk pergi ke Nami island untuk sekedar pelepas penat. Rencana itu sebenarnya sudah lama mereka buat. Namun karena Krystal yang sibuk dengan sekolahnya rencana itu terus tertunda.
Subway datang. Mereka berdua segera naik dan memilih tempat duduk di sebelah kiri barisan kedua dari belakang. Perjalanan terasa sangat menyenangkan. Pemandangan musim semi kota Seoul benar benar memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Cherry blossom atau yang biasa disebut dengan bunga sakura ini bermekaran di mana mana. Sedang asik menikmati pemandangan jalan, getaran handphone menyadarkan Krystal. Ia segera memencet tombol hijau pada benda kecil itu dan meletakannya di telinga.
"Yeoboseo?" Krystal memastikan siapa yang menelphonenya.
"Yeoboseo Krystal. Apa kau masih mengenal ku? Aku Lee Sungjin. Sunbae mu dulu"
"Ah sunbae-nim. Annyeonghasseo. Wah sudah lama sekali kita tidak bertemu" Krystal tersenyum dalam hati. Tentu saja ia mengenal pria itu. Pria yang berstatus sebagai seniornya di SMA dulu itu pernah membuat jantung Krystal berdegup kencang saat di dekatnya. Sayangnya pria itu sekarang sudah lulus dan masuk ke Seoul University.
"Ah kau masih ingat ternyata. Oh iya ada yang ingin aku sampaikan. Kau sedang dimana sekarang?"
"Aku sedang di perjalan menuju Nami island. Ada apa sunbae?"
"Aku sedang membutuhkan pemain dalam drama yang aku buat. Dan aku rasa aku membutuhkanmu untuk bermain dalam drama ini. Apa kau bersedia untuk menjadi aktris ku? Aku sudah tidak tau lagi siapa yang mau membantuku untuk melakukan ini"
Hah? Tadi Sungjin bilang apa? Ia membutuhkan Krystal? Ya Tuhan, jantung Krystal kembali berdegup kencang.
Perasaan itu datang lagi. Perasaan yang sama saat pertama kali bertemu dengan Sungjin sunbae di sekolahnya.
"Ah, emmm ya sepertinya aku bisa. Kapan shootingnya dimulai sunbae?" Krystal benar benar gugup menjawab pertanyaan itu.
"Minggu depan. Aku sangat berterimakasih sekali kalau kau benar benar bisa membantuku. Baiklah nanti aku hubungi lagi. Semoga harimu menyenangkan!".
Tuttt.....tuttt... tuttt
Krystal tersenyum lebar. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan perasaan itu. Perasaan yang membuat orang salah tingkah dan tersenyum senyum sendiri.
Tanpa sepengetahuan Krystal, Sungjin juga sedang tersenyum senang mendengar tanggapan Krystal tadi. Pria pemalu ini sepertinya sangat merindukan juniornya saat di SMA dulu itu.
Nami island. Tempat yang digemari para tourist ini benar- benar menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Krystal dan Mikazu sudah berjalan jalan hampir memutari pulau yang pernah menjadi setting sebuah drama korea ini. Pujian atas kekaguman mereka sudah berapa kali mereka lontarkan. Setelah puas dan lelah memutari pulau itu mereka memutuskan pulang.
=======================================================================
Jam sudah menunjukan pukul 11:30 siang. Tapi sepertinya sinar matahari belum terlihat dilangit Seoul hari itu. Hujan tampaknya masih ingin membasahi kota itu. Krystal masih duduk di sofa empuk sambil menikmati siaran berita. Sebenarnya siaran berita itu tidak ia nikmati sama sekali, ia sedang menikmati lamunannya. Ia sedang memikirkan tentang Lee Sungjin. Ya, seniornya yang mengajaknya bermain di sebuah drama itu sukses membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana tidak, pria yang dulu ia sukai tiba- tiba menghubunginya dan meminta bantuannya. Semburat merah tampak menghiasi pipi Krystal setiap ia mengingat seniornya itu menelphonenya kemarin. Ia memang sama sekali belum pernah menyatakan perasaannya pada seniornya itu. Ia belum punya cukup nyali untuk melakukan itu. Dan sekarang masalahnya hanya satu, apakah Sungjin sudah punya pacar? Aaahhhh!
Krystal mengacak- acak rambutnya.
"Krystal! Kau kenapa?"
Mikazu yang datang dan menepuk bahu Krystal, menyadarkan Krystal dari lamunannya.
"A...a...aniyo. nan gwenchana. Hehe" Krystal menggaruk kepalanya sambil tersenyum hambar "kau darimana saja?" Krystal mengalihkan pembicaraannya. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang perasaannya pada Sungjin, tapi mungkin waktunya belum tepat.
"Aku dikamar dari tadi. Kau tidak tahu?"
"Ah iya iya. Aku tahu. Hehe" Krystal salah tingkah.
=======================================================================
Jam sudah menunjukan pukul 11:30 siang. Tapi sepertinya sinar matahari belum terlihat dilangit Seoul hari itu. Hujan tampaknya masih ingin membasahi kota itu. Krystal masih duduk di sofa empuk sambil menikmati siaran berita. Sebenarnya siaran berita itu tidak ia nikmati sama sekali, ia sedang menikmati lamunannya. Ia sedang memikirkan tentang Lee Sungjin. Ya, seniornya yang mengajaknya bermain di sebuah drama itu sukses membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana tidak, pria yang dulu ia sukai tiba- tiba menghubunginya dan meminta bantuannya. Semburat merah tampak menghiasi pipi Krystal setiap ia mengingat seniornya itu menelphonenya kemarin. Ia memang sama sekali belum pernah menyatakan perasaannya pada seniornya itu. Ia belum punya cukup nyali untuk melakukan itu. Dan sekarang masalahnya hanya satu, apakah Sungjin sudah punya pacar? Aaahhhh!
Krystal mengacak- acak rambutnya.
"Krystal! Kau kenapa?"
Mikazu yang datang dan menepuk bahu Krystal, menyadarkan Krystal dari lamunannya.
"A...a...aniyo. nan gwenchana. Hehe" Krystal menggaruk kepalanya sambil tersenyum hambar "kau darimana saja?" Krystal mengalihkan pembicaraannya. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang perasaannya pada Sungjin, tapi mungkin waktunya belum tepat.
"Aku dikamar dari tadi. Kau tidak tahu?"
"Ah iya iya. Aku tahu. Hehe" Krystal salah tingkah.
Drrrtdrrrt drrrtdrrt
Handphone Krystal yang ia letakan di atas meja bergetar, menampilkan nama Sungjin Sunbae Calling di layarnya. Krystal segera menekan tombol hijau pada handphonenya dan meletakannya di telinga.
"Yeoboseo?"
"Krystal! Apa kau sibuk sekarang?" Suara pria di seberang telephone berhasil membuat hati Krystal tersenyum. Jantunynya pun tak mau kalah, terus berdetak tak beraturan.
"Aniya sunbae. Waeyo?"
"Jadi begini hmmm... aku sedang ada meeting dengan sponsor, jika kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu ikut dalam meeting ini. Bagaimana?" Tanpa sepengetahuan Krystal, pria diseberang sana juga sedang salah tingkah mendengar suara Krystal tadi. Seniornya ini memang tipe pria yang sangat pemalu.
Mendapat penawaran seperti itu tentu saja ia tidak akan menolaknya.
"Ah baiklah sunbae. Kita pergi pukul berapa"
"Sekitar pukul 4. Aku akan menjemputmu nanti. Gomawo Krystal! Hehe"
"Ne sunbae"
Tuutttt tuuttt tuuutt
Deg! Jantung krystal masih berdegup kencang. Bagaimana ini? Ini adalah pertama kalinya Sungjin dan dirinya bertemu kembali setelah sekian lama berpisah semenjak kelulusan Sungjin. Krystal semakin salah tingkah dan menarik perhatian Mikazu.
"Mikazu hari ini aku akan pergi dengan senior ku. Kau tidak keberatankan aku tinggal sendiri di rumah?"
"Hey hey Krystal apa yang menelphone mu tadi itu seniormu? Lihatlah dirimu! Kau senyum senyum sendiri dari tadi. Hahaha kau meyukainya ya?" Mikazu sepertinya sudah yau gelagat Krystal tadi. Bahasa tubuh krystal memang mudah ditebak
"Baiklah aku kalah. Ya aku meyukainya. Hehe sekarang kau bantu aku memilih pakaian!" Krystal tersenyum lebar.
Handphone Krystal yang ia letakan di atas meja bergetar, menampilkan nama Sungjin Sunbae Calling di layarnya. Krystal segera menekan tombol hijau pada handphonenya dan meletakannya di telinga.
"Yeoboseo?"
"Krystal! Apa kau sibuk sekarang?" Suara pria di seberang telephone berhasil membuat hati Krystal tersenyum. Jantunynya pun tak mau kalah, terus berdetak tak beraturan.
"Aniya sunbae. Waeyo?"
"Jadi begini hmmm... aku sedang ada meeting dengan sponsor, jika kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu ikut dalam meeting ini. Bagaimana?" Tanpa sepengetahuan Krystal, pria diseberang sana juga sedang salah tingkah mendengar suara Krystal tadi. Seniornya ini memang tipe pria yang sangat pemalu.
Mendapat penawaran seperti itu tentu saja ia tidak akan menolaknya.
"Ah baiklah sunbae. Kita pergi pukul berapa"
"Sekitar pukul 4. Aku akan menjemputmu nanti. Gomawo Krystal! Hehe"
"Ne sunbae"
Tuutttt tuuttt tuuutt
Deg! Jantung krystal masih berdegup kencang. Bagaimana ini? Ini adalah pertama kalinya Sungjin dan dirinya bertemu kembali setelah sekian lama berpisah semenjak kelulusan Sungjin. Krystal semakin salah tingkah dan menarik perhatian Mikazu.
"Mikazu hari ini aku akan pergi dengan senior ku. Kau tidak keberatankan aku tinggal sendiri di rumah?"
"Hey hey Krystal apa yang menelphone mu tadi itu seniormu? Lihatlah dirimu! Kau senyum senyum sendiri dari tadi. Hahaha kau meyukainya ya?" Mikazu sepertinya sudah yau gelagat Krystal tadi. Bahasa tubuh krystal memang mudah ditebak
"Baiklah aku kalah. Ya aku meyukainya. Hehe sekarang kau bantu aku memilih pakaian!" Krystal tersenyum lebar.
Krystal keluar rumah dengan mini dress berwarna putih. Ia segera menemui Sungjin yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.
Sungjin melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Krystal. Deg!! Jantung Krystal berdegup kencang untuk kesekian kalinya. Sungjin terseyum ramah dan mempersilahkan Krystal masuk ke dalam mobil. Krystal belum sempat memperhatikan Sungjin secara detail. Yang ia tau penampilan Sungjin terlihat lebih dewasa dan lebih berani, tidak seperti saat SMA dulu, pemalu dan agak sedikit kaku.
Sungjin melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Krystal. Deg!! Jantung Krystal berdegup kencang untuk kesekian kalinya. Sungjin terseyum ramah dan mempersilahkan Krystal masuk ke dalam mobil. Krystal belum sempat memperhatikan Sungjin secara detail. Yang ia tau penampilan Sungjin terlihat lebih dewasa dan lebih berani, tidak seperti saat SMA dulu, pemalu dan agak sedikit kaku.
"Kau terlihat sama sekali tidak berbeda. Masih cantik seperti dulu"
Pujian yang diberikan Sungjin membuat Krystal benar benar salah tingkah.
"Jeongmalyo? Hehe gomawo. Kau terlihat sangat berubah menurutku sunbae. Kau terlihat lebih dewasa"
"Ya, kau tunggu saja saat- saat kau lulus SMA nanti. Kau juga pasti akan berubah semakin dewasa"
"Aniya. Aku tidak mau menjadi dewasa. Menjadi orang dewasa itu sama sekali tidak menyenangkan"
"Siapa bilang? Menjadi dewasa itu sangat menyenangkan. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau" Perhatian Sungjin yang tadinya terpaku pada jalanan kini beralih ke arah Krystal.
"Sunbae kau berbicara seakan akan kau benar benar sudah dewasa hahaha. Padahal kan kau baru saja lulus SMA setahun yang lalu"
"Hehe kau ini! Jangan panggil aku sunbae lagi! Panggil aku oppa mengerti! Lagi pula aku ini bukan sunbae mu lagi! Aku sudah tidak satu sekolah denganmu"
Krystal tersenyum. Ya, mulai sekarang Krystal akan memanggil Sungjin oppa. Ah ia merasa ingin terus menyebut kata "oppa". Baginya kata itu adalah kata termanis yang pernah ia dengar.
Krystal tersenyum. Ya, mulai sekarang Krystal akan memanggil Sungjin oppa. Ah ia merasa ingin terus menyebut kata "oppa". Baginya kata itu adalah kata termanis yang pernah ia dengar.
Kini Sungjin dan Krystal telah berada di sebuah ruangan. Ruangan ini sudah di isi dengan beberapa orang dari beberapa sponsor drama yang disutradarai oleh Sungjin. Salah satu orang di ruangan ini membuat Krystal akan seseorang. Lee HyukJae, si malaikat yang telah memberikan Krytal teman, sebuah boneka yang dijadikan manusia. Ingin sekali rasanya ia memeluk orang tersebut. Wajah orang tersebut memang sangat mirip dengan Hyukjae. Andai saja Mikazu ikut, mungkin anak itu sudah benar benar memeluk orang yang mirip Hyukjae ini. Krystal semakin dibuat penasarab karena orang tersebut juga memperhatikan Krystal. Setelah perkenalan di awal meeting tadi Krystal tau siapa nama orang itu. Lee Eunhyuk. Nama yang benar benar mirip dengan Hyukjae, ya Lee Hyukjae malaikatnya yang sudah ia anggap sebagai sahabat atau bahkan kakaknya. Krystal sabar menunggu sampai meeting selesai dan mengajak orang itu bicara.
Krystal meneteskan air matanya di sertai dengan senyuman. Ia terharu. Orang yang duduk di depannya hanya tersenyum lalu menyeruput coffe yang dipenuhi dengan cream di atasnya.
"Kau harus mampir ke rumah ku sekarang. Mikazu pasti senang melihatmu. Ia berkali- kali bilang padaku bahwa ia merindukanmu" Krystal menyekat air mata yang jatuh di pipinya.
"Mikazu? Hahaha sudah kuduga bocah itu sebenarnya sangat memperhatikan ku, tapi ia menyembunyikan sifat
perhatiannya itu. Tapi Krystal sepertinya sekarang aku tidak bisa mampir ke rumah mu" pria itu, pria dengan gummy smile dan eyes candynya, ya benar, Lee Hyukjae atau sekarang namanya menjadi Lee Eunhyuk yang membuat Krystal terharu karena kerinduannya pada sosok malaikat yang merubah hidupnya. Tak tahu sekarang ia masih sebagai malaikat atau manusia seutuhnya. Eunhyuk berjanji akan menceritakan semuanya setelah mereka berkumpul bertiga kembali.
"Lalu kapan? Kapan kau akan mampir kerumahku?"
"Aku tidak tahu. Aku sedang disibuki pekerjaan sekarang. Tapi aku janji jika urusanku ini sudah selesai aku akan mampir" Eunhyuk memamerkan senyumannya. Senyuman yang membuat orang lain tersenyum.
"Sekarang kau pulang saja. Sungjin sedang menunggumu di ruangannya"
Sungjin tak henti hentinya bertanya saat di perjalan mengantar Krystal pulang "Kau dan Eunhyuk bagaimana bisa saling mengenal? Bahkan aku lihat kalian terlihat akrab" Krystal hanya tersenyum dan menjawab "Ia teman lamaku. Teman yang sangat berjasa dalam hidupku"
Dan diam diam ada perasaan cemburu yang menyelubung masuk ke hati Sungjin.
========================================================================
Sudah semuanya Krystal ceritakan kepada Mikazu, dan entah sudah berapa kali Mikazu membelalakan matanya dan berteriak "Benarkah?". Kerinduan terlihat jelas di mata Mikazu saat Krystal menceritakan pertemuannya dengan Eunhyuk. Dan sekarang Mikazu berkali kali meminta Krystal untuk menghubungi Eunhyuk.
Tutttt...tuuuutttt...tuttt
Sudah dua kali Krystal menghubungi Eunhyuk tapi tak ada jawaban.
Bulgogi bersama makanan yang lain sudah lengkap di atas meja. Setelah pertemuan di supermarket tadi mereka semua memutuskan untuk makan bersama. Eunhyuk juga sudah menjelaskan kepada murid muridnya tentang apa yang terjadi tadi. Suasana di restoran keluarga itu terasa sangat ramai. Mereka memesan satu ruangan besar dengan fasilitas vip.
Sebuah ruangan besar bernuansa putih yang seharusnya terlihat elegan ini sama sekali tidak enak dilihat. Bagaimana tidak, tujuh orang gadis tidur dengan sangat tidak beraturan. Bahkan salah satu dari mereka tidur dengan kepala berada di bawah kursi meja rias.
_TO BE CONTINUE_
Dan diam diam ada perasaan cemburu yang menyelubung masuk ke hati Sungjin.
========================================================================
Sudah semuanya Krystal ceritakan kepada Mikazu, dan entah sudah berapa kali Mikazu membelalakan matanya dan berteriak "Benarkah?". Kerinduan terlihat jelas di mata Mikazu saat Krystal menceritakan pertemuannya dengan Eunhyuk. Dan sekarang Mikazu berkali kali meminta Krystal untuk menghubungi Eunhyuk.
Tutttt...tuuuutttt...tuttt
Sudah dua kali Krystal menghubungi Eunhyuk tapi tak ada jawaban.
"Mikazu aku rasa Eunhyuk masih sibuk sekarang. Ia belum menjawab telphone ku dari tadi"
Krystal melihat setitik kekecewaan di wajah Mikazu. Ia tau, Mikazu sangat merindukan Eunhyuk. Walau dulu ia sering berdebat dengan malaikat naif itu, tapi bagaimana pun Eunhyuk adalah yang membantunya untuk menjadi manusia.
Krystal melihat setitik kekecewaan di wajah Mikazu. Ia tau, Mikazu sangat merindukan Eunhyuk. Walau dulu ia sering berdebat dengan malaikat naif itu, tapi bagaimana pun Eunhyuk adalah yang membantunya untuk menjadi manusia.
"Jika ia sudah mengangkat panggilan mu, segera beritahu aku. Akan akan meneriakinya"
Dengan tampang sedikit kesal, Mikazu pergi ke dalam kamarnya. Ia terlihat sangat lucu dengan wajah cemberut.
Dengan tampang sedikit kesal, Mikazu pergi ke dalam kamarnya. Ia terlihat sangat lucu dengan wajah cemberut.
Mikazu dan Krystal masih berada di dalam super market besar. Troli yang mereka bawa hampir penuh. Ini adalah jadwal mereka untuk belanja bulanan.
Dari kejauhan Krystal melihat sosok tidak asing yang berdiri dengan tujuh orang anak perempuan. "Eunhyuk? Dengan siapa dia disana?"
Krystal segera berlari kecil ke arah seseorang yang ia tuju tanpa memperdulikan Mikazu yang sedang sibuk memilih barang.
Dari kejauhan Krystal melihat sosok tidak asing yang berdiri dengan tujuh orang anak perempuan. "Eunhyuk? Dengan siapa dia disana?"
Krystal segera berlari kecil ke arah seseorang yang ia tuju tanpa memperdulikan Mikazu yang sedang sibuk memilih barang.
"Eunhyuk!"
Yang dipanggil lekas menengok. Eunhyuk tersenyum melihat Krystal yang kini sudah berada di depannya.
Yang dipanggil lekas menengok. Eunhyuk tersenyum melihat Krystal yang kini sudah berada di depannya.
"Krystal! Sedang apa kau? Kau sendirian?" Tanya Eunhyuk sambil melirik ke kanan kiri Krystal.
Yang ditanya malah memandang heran ke arah tujuh orang anak perempuan yang berada di belakang Eunhyuk.
Yang ditanya malah memandang heran ke arah tujuh orang anak perempuan yang berada di belakang Eunhyuk.
"Ah! Perkenalkan mereka adalah muridku. Mereka datang dari Indonesia. Mereka ke sini untuk belajar budaya korea. Yang disebelah paling kanan itu Risna, disebelah Risna, Fala, lalu Nisa, Farah, Natali, lalu yang disamping ku ini Dewi. Mereka belum fasih berbahasa korea" Eunhyuk memperkenalkan tujuh anak perempuan itu satu persatu dan anak anak itu menunduk memberi salam.
"Mereka gadis yang manis. Aku pikir mereka siapa. Ternyata muridmu. Jadi kau sibuk untuk mengajar mereka?"
"HEY MALAIKAT BODOH !!!" Belum Eunhyuk menjawab, tiba tiba muncul orang yang dikenalnya berjalan ke arah mereka dengan tangan yang dilipat di depan dada dan tampang cemberut yang membuat orang malah gemas melihatnya.
"Hey Mikazu! Kau sedikit berubah. Kau sudah tidak memakai baju kuno lagi sekarang. Hahaha"
Mikazu semakin mempercepat langkahnya lalu memeluk Eunhyuk. Tujuh orang anak perempuan yang ada dibelakang Eunhyuk hanya saling memandang satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi denga orang yang mereka panggil dengan sebutan Ssaem ini.
Mikazu semakin mempercepat langkahnya lalu memeluk Eunhyuk. Tujuh orang anak perempuan yang ada dibelakang Eunhyuk hanya saling memandang satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi denga orang yang mereka panggil dengan sebutan Ssaem ini.
========================================================================
Bulgogi bersama makanan yang lain sudah lengkap di atas meja. Setelah pertemuan di supermarket tadi mereka semua memutuskan untuk makan bersama. Eunhyuk juga sudah menjelaskan kepada murid muridnya tentang apa yang terjadi tadi. Suasana di restoran keluarga itu terasa sangat ramai. Mereka memesan satu ruangan besar dengan fasilitas vip.
"Hei ! Umur kalian sudah 17 tahun kan? Aku mau mengajarkan kalian minum soju. Kalian harus tau, di korea jika kalian menolak ajakan seseorang untuk minum soju itu adalah perbuatan yang tidak sopan. Kalian mau kan?" Eunhyuk melirik ke arah ketujuh muridnya. Mereka hanya saling pandang satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan.
"Tapi ssaem, kami tidak biasa minum soju. Bagaimana jika tiba tiba kami mabuk?" Dewi, salah satu dari murid Eunhyuk akhirnya angkat bicara dan disambut oleh anggukan keenam temannya.
"Kalian hanya minum dua sampai tiga gelas. Kemungkinan untuk mabuk sangat kecil. Ayo coba" Eunhyuk menuangkan soju ke gelas gelas kecil yang berada di depan Krystal, Mikazu, dan Murid muridnya.
Bersulang!! Sepuluh gelas dengan pemiliknya masing masing diangkat keatas lalu di tubrukan satu sama lain sampai berbunyi suara Ting. Mereka semua menenggak minuman beralkohol khas korea itu.
Benar saja. Sekarang Eunhyuk bingung. Ketujuh muridnya mabuk setelah minum tiga gelas soju. Ada yang sudah tertidur pulas, ada yang mengeluh mual, dan ada yang berbicara sendiri. Eunhyuk bingung bagaimana ia membawa tujuh orang gadis mabuk ini. Mereka semua sama sekali hilang kesadaran.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau menyuruh mereka semua minum soju. Tentu saja akan seperti ini jadinya. Sekarang bagaimana? Kau tidak mungkin meggendong mereka bertujuh sekaligus " Mikazu yang terlihat bingung melimpahkan semua kesalahan kepada Eunhyuk dan disambut oleh anggukan Krystal.
"Aku harus minta bantuan. Aaaaaa tidak seharusnya aku ajarkan mereka minum soju saat di luar seperti ini" Eunhyuk mengacak acak rambutnya lalu mengambil ponselnya dari saku. Ia terlihat sibuk meminta bantuan. Mungkin sedang menelpon beberapa orang temannya.
========================================================================
Sebuah ruangan besar bernuansa putih yang seharusnya terlihat elegan ini sama sekali tidak enak dilihat. Bagaimana tidak, tujuh orang gadis tidur dengan sangat tidak beraturan. Bahkan salah satu dari mereka tidur dengan kepala berada di bawah kursi meja rias.
"Huaahhh!! Ya ampun jam berapa ini? Hei hei bangun!!!!" Salah satu gadis yang terbangun duluan segera membangunkan teman temannya yang masih tertidur pulas. Satu persatu terbangun.
BUKKK!!! "Aw sakitttt"
Semua mata tertuju pada anak yang baru terbentur kepalanya. Yang lain serentak bergumam " FARAHHHH"
Anak itu hanya nyengir dengan wajah setengah sadar.
BUKKK!!! "Aw sakitttt"
Semua mata tertuju pada anak yang baru terbentur kepalanya. Yang lain serentak bergumam " FARAHHHH"
Anak itu hanya nyengir dengan wajah setengah sadar.
"Semalam kita pulang jam berapa?" Tanya seorang anak yang diketahui bernama Ina.
"Kapan kita pulang? abis minum terus nggak sadar" Gumam fala. Salah satu dari mereka. Suasana sepi sejenak, mereka sibuk dengan pikiran masing masing, sampai akhirnya
HOEKKKK!!!
Salah satu dari mereka berlari dengan kecepatan extra ke kamar mandi yang letaknya di sudut kamar.
HOEKKKK!!!
Salah satu dari mereka berlari dengan kecepatan extra ke kamar mandi yang letaknya di sudut kamar.
"Natali!!! Kenapa?" Mereka semua berkumpul didepan pintu kamar mandi. Khawatir terjadi sesuatu pada salah satu teman mereka.
"Wi cepat keluar. Bilang sama Eunhyuk ssaem! Takut Natali kenapa napa" Risna dengan wajah paniknya menyuruh Dewi keluar dan melaporkan apa yang terjadi. Dewi lekas berlari keluar kamar, tapi tak berapa lama kemudian ia balik lagi dan berteriak
"Di...di luar.. di luar!!! Di luar banyak cowok. Cowok cowok ganteng!!!" Semua perhatian tertuju pada Dewi yang berbicara dengan nafas tak beraturan.
"Terus Eunhyuk ssaem mana?" Ina, dengan nada suara yang meninggi membuat Dewi terkejut.
"Oh iya!" Dewi lekas keluar lagi sambil setengah berlari.
"Yeh dasar! Nis susul gih" akhirnya salah satu dari mereka menyusul dewi dan mencari Eunhyuk ssaem.
Suasana di dapur di pagi itu sedikit ramai. Kini Natali yang tadi muntah muntah di kamar mandi sedang duduk dengan satu gelas air yang telah dicapur madu. Eunhyuk sudah menjelaskan kepada muridnya bahwa yang dialami Natali adalah hal yang biasa. Natali mabuk tapi rasa mual itu akan hilang. Teman temannya yang tadinya panik, kini mulai bisa bernafas lega.
"Ssaem semalam kita mabuk kan? Terua gimana kita bisa pulang?" Fala mulai membuka pembicaraan.
"Bertimakasihlah pada mereka ini. Mereka yang menggendong kalian sampai kesini. Panggil mereka oppa. Mereka lebih tua dari kalian" Eunhyuk menunjuk ke arah segerombolan pria yang ada di belakangnya. Mereka tersenyum ke arah murid murid Eunhyuk dan berhasil membuat murid muridnya itu salah tingkah. Murid muridnya itu saling berbisik satu sama lain dengan bahasa yang tidak Eunhyuk mengerti.
"Nis nis kita di gendong sama cowok cowok ini. Aaaaaa" Dewi dengan wajah tersipu mencolek tangan salah satu temannya sambil berbisik.
"Aaaa iya wi tau gini mah setiap hari aja kita mabuk hahaha"
" Haduh eh kalo gini sih setiap hari mabuk juga gua rela"
Mereka mengangguk sambil tertawa kecil dan membuat Eunhyuk curiga.
Mereka mengangguk sambil tertawa kecil dan membuat Eunhyuk curiga.
"Kalian ngomongin apa?"
" Ah nggak papa ssaem. Hehe"
" Oke. Kalian sarapan dulu ya. Habis ini ssaem ajak kalian ke rumah Krystal dan Mikazu"
"Yes ssaem!!!" Mereka menjawab serentak. Kompak sekali. Sampai diam diam Eunhyuk tertawa melihat ketujuh muridnya itu.
Tanpa ia sadari, semenjak ada mereka rumahnya menjadi sangat ramai. Tidak menyesal ia mengajukan diri untuk mengajar mereka. Mereka bukan cuma sekedar murid, mereka sudah seperti adik bagi Eunhyuk. Kepolosan mereka saat bertanya, kepandaian mereka mengartikan sesuatu, keberanian mereka mencoba hal baru semua itu juga merupakan pelajaran bagi Eunhyuk. Wajah ceria mereka kini sudah menjadi bumbu di kehidupan Eunhyuk.
"Aku harap jika kalian sudah selesai belajar disini kalian tidak melupakan ku dan sering berkunjung menemuiku. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Karena kalian adalah anak ayam dan aku adalah induknya" tanpa sadar Eunhyuk berdoa dalam hati. Sepertinya muridnya itu sudah benar benar menempati sebagian hati Eunhyuk. Ia sampai tak ingin muridnya melupakannya begitu saja.
Tanpa ia sadari, semenjak ada mereka rumahnya menjadi sangat ramai. Tidak menyesal ia mengajukan diri untuk mengajar mereka. Mereka bukan cuma sekedar murid, mereka sudah seperti adik bagi Eunhyuk. Kepolosan mereka saat bertanya, kepandaian mereka mengartikan sesuatu, keberanian mereka mencoba hal baru semua itu juga merupakan pelajaran bagi Eunhyuk. Wajah ceria mereka kini sudah menjadi bumbu di kehidupan Eunhyuk.
"Aku harap jika kalian sudah selesai belajar disini kalian tidak melupakan ku dan sering berkunjung menemuiku. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Karena kalian adalah anak ayam dan aku adalah induknya" tanpa sadar Eunhyuk berdoa dalam hati. Sepertinya muridnya itu sudah benar benar menempati sebagian hati Eunhyuk. Ia sampai tak ingin muridnya melupakannya begitu saja.
========================================================================
"Krystal eonni, kau juga menyukai karya Aoyama Gosho?" Dewi yang sedang mengaggumi koleksi komik Krystal yang terjajar tapi tak melepaskan pandangannya pada komik komik itu. Keren sekali pikirnya. Krystal punya koleksi yang sangat lengkap.
"Ya begitulah. Kau suka Aoyama Gosho juga?" Krystal tersenyum melihat gadis yang benar benar masih memandang kearah tumpukan komik itu dengan tatapan kagum
"Ya. Dia adalah komikus yang sangat hebat. Aku juga menonton beberapa film yang di ambil dari cerita komik komiknya"
"Benarkah? Wah kau hebat. Aku hanya suka komiknya saja. Aku sama sekali belum pernah menonton versi filmnya"
Suasana di salah satu ruangan dirumah Krystal kini terasa hangat. Mereka sudah mengenal satu sama lain. Krystal dan Mikazu juga mengajarkan mereka beberapa kebudayaan korea. Eunhyuk senang melihat pemandangan di depannya. Sembilan orang wanita yang mengisi pikiranya kini sedang berkumpul dengan akrabnya.
"Aku adalah pria paling beruntung di dunia. Mungkin semua pria akan iri padaku. Aku yakin"
"Aku adalah pria paling beruntung di dunia. Mungkin semua pria akan iri padaku. Aku yakin"
_TO BE CONTINUE_


