Sabtu, 22 Februari 2014

I'M HERE

Tittled: I'm Here
Author: deafrilee
Cast:
Lee Beom Soo as Kwon Yul



Shim Changmin as Kwon Changmin



Moon Gayoung as Kwon Minjoo


Rate: R
Genre: Fantasy, Family, Sad

Yoohooo akhirnya saya selesaikan fanfict ini dalam dua hari. Heran deh ya, kalo gue bikin fanfict serius jadinya bisa berhari- hari dan akhirnya nggak di post karena nggak rampung dan kehilangan mood buat lanjutinnya. Giliran fanfict yang niatnya cuma iseng malah jadi dalam waktu dua hari -___-
Nah kali ini gue bikin fanfict yang melow. Dan cerita ini terinspirasi dari MV Sm the Ballad 2 - Breath yang mau liat mvnya liat disini
Sebenernya sih mv sama cerita ini jauh berbeda. Tapi gue terinspirasi sama karakter Changmin dan Gayoung. Fanfict ini sama sekali nggak mengandung cinta cintaan ala remaja hahaha.
Yang mau baca silahkan baca. CERITA INI MURNI MILIK SAYA DAN ATAS DASAR INSPIRASI DARI TUHAN YANG MAHA ESA. Kecuali cast, castnya sendiri adalah para idola saya yang entah mengapa selalu memancing khayalan saya setinggi tingginya. DON'T COPY AND PASTE



"Aku tidak mau pergi... Tapi ayah akan sangat marah jika aku bolos sekolah untuk kedua kalinya"
Seorang gadis remaja dengan seragam sekolahnya sedang serius memperhatikan seekor katak hijau yang melompat dengan lincah di depannya. Wajahnya terlihat murung, terlihat begitu lucu dengan bibir mungilnya yang sedikit ditekuk kebawah. Pipinya merona karena suhu badannya yang hangat diterpa dinginnya angin yang berhembus lembut membuat bulu- bulunya sedikit berkidik.

"Kwon Min Joo! jika ayah mendengar kau membuat masalah lagi, ayah akan membuang semua koleksi bukumu tanpa tersisa! Kau mengerti!"

"Tapi teman- teman di sekolah selalu berteriak bahwa aku adalah gadis gila dan suka berbicar sendiri yah, mereka mencemoohku!"
Minjoo menghentakan kakinya kesal. Ia bingung mengapa tidak seorang pun yang mengerti keadaannya. Bahkan ayah dan kakaknya sendiri selalu memarahinya dan berpikir bahwa dirinya adalah pembuat masalah. Sebenarnya ayah dan kakaknya tahu bahwa dirinya mempunyai sesuatu yang tidak dapat diterima oleh nalar, dapat melihat arwah. Kelebihan itu ia dapatkan dari mendiang kakek dan ibunya. Entah hal itu dapat dibilang sebagai kelebihan, atau bahkan sebaliknya. Seandainya saja ibunya masih ada, mungkin ia tidak akan semalang ini.

"Jangan perdulikan mereka. Anggap saja mereka angin yang kebetulan berhembus"
Kwon Yul berusaha meyakinkan anaknya. Ia bingung harus bagaimana lagi cara meyakinkan anaknya itu.

"Mereka badai yah. Mereka bukan angin, mereka badai. Mereka sama sekali tidak berhak melakukan itu kan yah? aku bersumpah aku tidak pernah mengganggu mereka, tapi kenapa mereka selalu menggangguku?"

Kwon Yul menghembuskan nafas berat. Ia tahu anaknya bukanlah anak yang suka mengganggu orang lain. Namun, Minjoo terlalu aneh untuk diterima oleh orang lain. Kepribadiannya yang "suka asik sendiri" membuat orang lain berpikir dirinya aneh. Kwon Yul sadar itu, dan mungkin ia akan memikirkan keluhan anaknya. Ia mulai berpikir memindahkan Minjoo kesekolah lain atau membawanya ke psikiater agar bisa berkonsultasi tentang sifat anaknya itu.

"Ayah aku pergi"
Changmin, kakak Minjoo sudah berpamitan untuk pergi kekampusnya. Ia melirik ke arah Minjoo dan menatapnya dengan tatapan mengejek.

"Changmin hari ini kau yang jemput Minjoo ke sekolahnya! Ayah akan sangat sibuk hari imi"
Changmin meringis. Minjoo yang melihat ekspresi itu langsung membalasnya dengan melemparkan katak di depannya ke arah Changmin. Changmin menjerit.

"Menjijikan!"

"Kau yang menjijikan! Laki- laki mana yang takut katak hah?"

"Jika kalian ingin melanjutkan pertengkarannya, ayah akan membawa kalian ke ring tinju! Minjoo cepat masuk mobil, dan kau Changmin jangan lupa jemput adikmu pukul 7 nanti"

Kwon Yul menarik tangan Minjoo dengan paksa. Tak terdengar suara apapun dari mulut Minjoo, tapi ia tau Minjoo sedang memasang tampang sangat tidak mengenakan saat ini. Ia sadar mood Minjoo sedang sangat tidak baik hari ini.


"Ingat! Jangan berbuat macam- macam! Ayah akan carikan solusi agar kau nyaman disekolah. Ayah mohon tunggu sampai ayah menemukan solusi yang tepat untukmu, maafkan ayah karena menyuruhmu menunggu dalam situasi yang sangat tidak nyaman untukmu"

Minjoo mengangguk lalu mengecup pipi ayahnya. Ia berlari ke arah gerbang sekolahnya. Ia tahu ayahnya sedang memandangi pundaknya. Minjoo akan berusaha bersabar sampai ayahnya menemukan solusi yang tepat untuknya.

Baru sampai dikelasnya, tiga orang teman sekelasnya sudah memandanginya dengan sinis, Minjoo berusaha tidak perduli. Seperti apapun mereka mencemooh Minjoo, Minjoo akan menutup telinganya rapat- rapat. Ia akan menganggapnya sebagai angin lalu, seperti yang ayahnya katakan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 06.55, bel pulang sekolah yang Minjoo nantikan akhirnya berbunyi juga. Segera Minjoo berlari menelusuri koridor yang saat itu masih lumayan sepi. Ia sengaja terburu- buru untuk menghindari tatapan tatapan aneh yang seolah mencibirnya. Dan mungkin hari ini ia akan pulang naik subway berdesakan dengan penumpang lain dan mungkin ia juga akan kehujanan karena langit sudah mulai gelap. Ia ingat perkataan ayahnya mennyuruh Changmin, kakaknya untuk menjemputnya. Tapi begitu membayangkan ekspresi Changmin tadi rasanya tidak mungkin Changmin mau menjemputnya. Dan lagipula Minjoo tidak mau naik motor bersama kakaknya yang seperti orang gila jika sedang mengendarai motor .

Tak terhitung berapa orang yang ia tabrak dan berapa cacian yang ia dapatkan. Ia hanya perlu sampai di halte bertepatan dengan kedatang bus berikutnya. Sementara langit semakin gelap, ia mencoba berpikir tidak akan turun hujan sampai dirinya sampai dirumah. Begitu ia sampai di halte, bus berikutnya belum tiba, namun sesosok laki- laki mengendarai sepeda motor yang ia kenal berhenti tepat di depannya.

"Cepat naik!"
Changmin membuka kaca helm yang menutupi wajahnya. Matanya yang bulat dan tajam serasa menusuk ke arah Minjoo.

"Aku mau naik bus! Pulang saja sendiri!"
Minjoo menghentakan kakinya. Terlihat ekspresi yang sering Changmin lihat yang membuatnya ingin melemparkan sesuatu ke wajah adiknya itu. Ia merasa tidak perlu menjadi kakak yang baik jika adiknya sendiri tidak pernah mencoba menjadi adik yang baik.

"Aku hitung sampai tiga jika kau tetap tidak mau aku akan benar- benar pergi dan bilang pada ayah kalau kau lebih suka pulang sendiri lalu mampir ke tempat game box. 1...2..."

Seperti terhipnotolis kata-kata Changmin Minjoo langsung naik dan memakai helmnya. Changmin segera mengendarai motornya secepat mungkin. Ia tidak mau hujan turun disaat dirinya masih dijalan. Selain karena udara dingin yang akan menusuk tubuhnya, ia juga pasti akan direpotkan dengan adiknya yang cerewet ini. Dengan kecepatan maksimal ia meluncur melewati jalanan kota Seoul yang saat itu sudah mulai ramai.


Sedang asik mengendarai motornya, tiba- tiba saja mobil dari arah berlawanan mengambil jalannya. Untung saja ia bisa menghindar, namun tiba tiba mobil dari arah kanan menghantam motor Changmin dan membuatnya terlempar jauh ke arah sebaliknya.

Di tengah ketenangan malam kota Seoul saat itu tiba- tiba saja BUSSS mendadak menjadi ramai. Ambulance, wartawan, dan team lainnya tiba tiba mengerubung seperti segerombolan semut. Malam itu, tepat pukul 07.15 berita tentang kecelakaan lalu lintas yang terjadi disekitar sungai Han, dengan korban yang terlempar masuk ke arah sungai yang terkenal itu ramai diberitakan. Dua orang korbannya terlempar masuk ke dalam sungai yang airnya terasa es itu. Dua korban tersebut diketahui bernama Kwon Changmin dan Kwon Minjoo.


Sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. Kwon Yul, hatinya sakit, sakit melihat anak anaknya seperti itu. Ia merasa menjadi ayah yang gagal karena tidak bisa melindungi anaknya. Tubuhnya terasa remuk mengetahui berita yang disampaikan oleh polisi. Tak perduli dengan orang orang yang memandang iba kearahnya. Ia tidak ingin dikasihani, namun keadaanya saat ini memang sangat memprihatinkan. Jeritan jeritan kecil yang keluar dari mulutnya membuat hatinya semakin pilu. Beberapa asisten yang duduk disampingnya bahkan ikut menangis mendengar tangisan malang pria yang mereka anggap tegas dan sangat disiplin itu.

Isakan tak kunjung berhenti keliar begitu saja dari mulutnya. Tak perduli sudah sebengkak apa matanya. Bahkan air mata sudah tidak keluar dari mata tajamnya.

"Oppa"
Ia mengikuti sosok kakaknya dan mendapati Changmin berhenti di jembatan sungai Han. Minjoo tahu yang sekarang ia lihat tidak dapat dilihat orang lain. Changmin dinyatakan menghilang, dan sampai hari itu beberapa polisi sedang mencari jasad Changmin yang belum ditemukan. Minjoo bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ia menjerit melihat Changmin yang pucat memandang kosong ke arah sungai Han.

"Oppa"
Satu panggilan lagi. Ia memandang intens ke arah wajah Changmin.  Butiran air bening terliha turun dari mata Changmin dan tiba- tiba Changmin membuka mulutnya. Ia berteriak

"Minjoo!!! Kwon Minjoo!!!!"
Ia berhenti sebentar dan mulai mengeluarkan isakan pilu.

"Minjoo!!!! Maafkan aku.... Maafkan aku Minjoo...."
Tangisan pecah. Changmin tak sanggup menjerit lagi. Nafasnya sesak seiring turunya air mata yang begitu deras turun melalu celah matanya. Wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah.

"Tidak apa- apa. Justru aku yang harusnya minta maaf... oppa... pasti kau sangat kedinginan didalam sana...oppa tunjukan wujudmu... kasihan ayah. Ia berusaha mati- matian mencari jasadmu"

Minjoo berlari ke tempat Changmin berdiri, ia berusaha memeluk kakaknya itu namun gagal. Tangannya bahkan tidak bisa menyentuh pundak Changmin yang terlihat berat karena isakan.

Tak berapa lama, Kwon Yul ayah mereka datang. Minjoo segera berteriak ke arah ayahnya.

"Ayah!! Changmin oppa.... ia ada disini... ayah!!!"
Minjoo merasa berhasil memberitahu ayahnya. Biasanya ayahnya tidak pernah percaya dengan apa yang Minjoo lihat. Namun kali ini ayahnya mendengar perkataanya dan berlari menuju Changmin.
“iya ayah. Changmin oppa ada diditu”

Deg! Minjoo merasa aneh. Tubuhnya seketika lemas sampai kakainya terasa tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.

Ada apa ini? Kenapa ayah bisa memeluk Changmin oppa? Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Ayah.... ayah... apa ayah bisa melihatnya juga? Ayah bisa melihat Changmin oppa? Bahkan ayah bisa memeluknya. Ayah tolong aku..  aku mau memeluknya juga..

"Changmin... Changmin ayo kita pulang ..."

Minjoo merasa semakin bingung. Apa ayahnya juga bisa berkomunikasi dengan Changmin? Minjoo yang sudah menjerit sedari tadi bahkan seperti tak terdengar di telinga Changmin.

"Changmin... ayo kita pulang... jangan seperti ini... ayah akan merasa semakin hancur. Tuhan sangat menyayangi adikmu, ia memanggil adikmu lebih dulu karena Tuhan sangat menyayanginya"

Deg! Apa? Ayahnya bilang apa barusan? Tuhan memanggil adiknya lebih dulu? Apa maksudnya? Minjoo masih disini, bahkan masih bisa menangis, bahkan masih bisa menjerit walau tak terdengar, bahkan ia masih bisa merasakan nafas berat ayahnya. Minjoo terkapar di jalanan Seoul yang dingin. Di depannya ayah dan kakaknya ternyata sedang menangisi dirinya. Sedangkan yang Minjoo kira adalah kakak tersayangnya yang meninggal dan belum ditemukan jasadnya. Minjoo terkulai lemas, namun ia mencoba bangkit dan memeluk ayahnya dengan percuma. Tubuh Minjoo menembus tubuh ayahnya. Tapi ia bisa merasakan getirnya air mata yang sedari tadi membasahi pipi ayahnya.

Ayah.... Changmin oppa.... jangan sedih... aku akan tetap berada di hati kalian.... Changmin oppa, ini sepenuhnya bukan kesalahanmu.. Apa yang ayah katakan benar... Tuhan sangat menyanyangiku. Dan kau tau, Tuhan mempertemukan ku pada ibu.. Jangan menangis lagi... Aku sayang kalian..

Untuk beberapa saat, bisikan gaib itu terngiang di telinga Kwon Yul dan Changmin. Entah dari mana datangnya, suara menenangkan, suara yang sangat mereka rindukan itu terdengar ditelinga mereka. Dan tiba tiba saja dua sosok bayangan, dua sosok wanita, wanita paling cantik bagi mereka tersenyum manis seakan mengatakan "Don't cry.. I'm always here with you"

Seoul, February 21, 2014
Dikabarkan sesosok mayat ditemukan di tepi Sungai Han. Mayat tersebut dipastikan bernama Kwon Min Joo. Seorang korban kecelakaan yang terjadi tiga hari yang lalu. Anehnya, jasad korban sama sekali tak membusuk. Mengingat selama tiga hari dirinya dikabarkan menghilang di Sungai Han. Jasad yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap ini tidak ditemukan selama tiga hari, team yang mencari jasadnya pun dibuat bingung karena mereka yakin telah menjelajahi daerah sekitar dirinya ditemukan tenggelam. Namun, keluarga korban kini sudah mulai tenang dan bisa menerima kepergian salah seorang keluarga mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar