Tittled:
I'm Here
Author:
deafrilee
Cast:
Lee Beom Soo as Kwon Yul
Shim
Changmin as Kwon Changmin
Moon
Gayoung as Kwon Minjoo
Rate:
R
Genre:
Fantasy, Family, Sad
Yoohooo akhirnya saya
selesaikan fanfict ini dalam dua hari. Heran deh ya, kalo gue bikin fanfict serius
jadinya bisa berhari- hari dan akhirnya nggak di post karena nggak rampung dan kehilangan
mood buat lanjutinnya. Giliran fanfict yang niatnya cuma iseng malah jadi dalam
waktu dua hari -___-
Nah kali ini gue bikin
fanfict yang melow. Dan cerita ini terinspirasi dari MV Sm the Ballad 2 - Breath
yang mau liat mvnya liat disini
Sebenernya sih mv
sama cerita ini jauh berbeda. Tapi gue terinspirasi sama karakter Changmin dan Gayoung.
Fanfict ini sama sekali nggak mengandung cinta cintaan ala remaja hahaha.
Yang mau baca silahkan
baca. CERITA INI MURNI MILIK SAYA DAN ATAS DASAR INSPIRASI DARI TUHAN YANG MAHA
ESA. Kecuali cast, castnya sendiri adalah para idola saya yang entah mengapa selalu
memancing khayalan saya setinggi tingginya. DON'T COPY AND PASTE
"Aku tidak
mau pergi... Tapi ayah akan sangat marah jika aku bolos sekolah untuk kedua
kalinya"
Seorang gadis
remaja dengan seragam sekolahnya sedang serius memperhatikan seekor katak hijau
yang melompat dengan lincah di depannya. Wajahnya terlihat murung, terlihat
begitu lucu dengan bibir mungilnya yang sedikit ditekuk kebawah. Pipinya merona karena suhu
badannya yang hangat diterpa dinginnya angin yang berhembus lembut membuat
bulu- bulunya sedikit berkidik.
"Kwon Min
Joo! jika ayah mendengar kau membuat masalah lagi, ayah akan membuang semua
koleksi bukumu tanpa tersisa! Kau mengerti!"
"Tapi teman-
teman di sekolah selalu berteriak bahwa aku adalah
gadis gila dan suka berbicar sendiri yah, mereka
mencemoohku!"
Minjoo
menghentakan kakinya kesal. Ia bingung mengapa tidak seorang pun yang mengerti
keadaannya. Bahkan ayah dan kakaknya sendiri selalu memarahinya dan berpikir
bahwa dirinya adalah pembuat masalah. Sebenarnya ayah dan kakaknya tahu bahwa dirinya mempunyai sesuatu yang
tidak dapat diterima oleh nalar, dapat melihat arwah. Kelebihan itu ia dapatkan
dari mendiang kakek dan ibunya. Entah hal itu dapat dibilang sebagai kelebihan,
atau bahkan sebaliknya.
Seandainya saja ibunya masih ada, mungkin ia tidak akan semalang ini.
"Jangan
perdulikan mereka. Anggap saja mereka angin yang kebetulan berhembus"
Kwon Yul
berusaha meyakinkan anaknya. Ia bingung harus bagaimana lagi cara meyakinkan
anaknya itu.
"Mereka badai
yah. Mereka bukan angin, mereka badai. Mereka sama sekali tidak berhak melakukan
itu kan yah? aku bersumpah aku tidak pernah mengganggu mereka, tapi kenapa
mereka selalu menggangguku?"
Kwon Yul
menghembuskan nafas berat. Ia tahu anaknya bukanlah anak yang suka mengganggu
orang lain. Namun, Minjoo terlalu aneh untuk diterima oleh orang lain.
Kepribadiannya yang "suka asik sendiri" membuat orang lain berpikir
dirinya aneh. Kwon Yul sadar itu, dan mungkin ia akan memikirkan keluhan
anaknya. Ia mulai berpikir memindahkan Minjoo kesekolah lain atau membawanya ke
psikiater agar bisa berkonsultasi tentang sifat anaknya itu.
"Ayah aku
pergi"
Changmin, kakak
Minjoo sudah berpamitan untuk pergi kekampusnya. Ia melirik ke arah Minjoo dan
menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Changmin
hari ini kau yang jemput Minjoo ke sekolahnya! Ayah akan sangat sibuk hari
imi"
Changmin meringis.
Minjoo yang melihat ekspresi itu langsung membalasnya dengan melemparkan katak
di depannya ke arah Changmin. Changmin menjerit.
"Menjijikan!"
"Kau yang
menjijikan! Laki- laki mana yang takut katak hah?"
"Jika kalian
ingin melanjutkan pertengkarannya, ayah akan membawa kalian ke ring tinju!
Minjoo cepat masuk mobil, dan kau Changmin jangan
lupa jemput adikmu pukul 7 nanti"
Kwon Yul menarik
tangan Minjoo dengan paksa. Tak terdengar suara apapun dari mulut Minjoo, tapi
ia tau Minjoo sedang memasang tampang sangat tidak mengenakan saat ini. Ia
sadar mood Minjoo sedang sangat tidak baik hari ini.
"Ingat!
Jangan berbuat macam- macam! Ayah akan carikan solusi agar kau nyaman
disekolah. Ayah mohon tunggu sampai ayah menemukan solusi yang tepat untukmu,
maafkan ayah karena menyuruhmu menunggu dalam situasi yang sangat tidak nyaman
untukmu"
Minjoo mengangguk
lalu mengecup pipi ayahnya. Ia berlari ke arah gerbang sekolahnya. Ia tahu
ayahnya sedang memandangi pundaknya. Minjoo akan berusaha bersabar sampai
ayahnya menemukan solusi yang tepat untuknya.
Baru sampai
dikelasnya, tiga orang teman sekelasnya sudah memandanginya dengan sinis,
Minjoo berusaha tidak perduli. Seperti apapun mereka mencemooh Minjoo, Minjoo
akan menutup telinganya rapat- rapat. Ia akan menganggapnya sebagai angin lalu,
seperti yang ayahnya katakan.
Tak terasa waktu
sudah menunjukan pukul 06.55, bel pulang sekolah yang Minjoo nantikan akhirnya
berbunyi juga. Segera Minjoo berlari menelusuri koridor yang saat itu masih
lumayan sepi. Ia sengaja terburu- buru untuk menghindari tatapan tatapan aneh
yang seolah mencibirnya. Dan mungkin hari ini ia akan pulang naik subway
berdesakan dengan penumpang lain dan mungkin ia juga akan kehujanan karena
langit sudah mulai gelap. Ia ingat perkataan ayahnya mennyuruh Changmin,
kakaknya untuk menjemputnya. Tapi begitu membayangkan ekspresi Changmin tadi
rasanya tidak mungkin Changmin mau menjemputnya. Dan lagipula Minjoo tidak mau
naik motor bersama kakaknya yang seperti orang gila jika sedang mengendarai
motor .
Tak terhitung
berapa orang yang ia tabrak dan berapa cacian yang ia dapatkan. Ia hanya perlu
sampai di halte bertepatan dengan kedatang bus berikutnya. Sementara langit
semakin gelap, ia mencoba berpikir tidak akan turun hujan sampai dirinya sampai
dirumah. Begitu ia sampai di halte, bus berikutnya belum tiba, namun sesosok
laki- laki mengendarai sepeda motor yang ia kenal berhenti tepat di depannya.
"Cepat
naik!"
Changmin membuka
kaca helm yang menutupi wajahnya. Matanya yang bulat dan tajam serasa menusuk
ke arah Minjoo.
"Aku mau naik
bus! Pulang saja sendiri!"
Minjoo
menghentakan kakinya. Terlihat ekspresi yang sering Changmin lihat yang
membuatnya ingin melemparkan sesuatu ke wajah adiknya itu. Ia merasa tidak
perlu menjadi kakak yang baik jika adiknya sendiri tidak pernah mencoba menjadi
adik yang baik.
"Aku hitung
sampai tiga jika kau tetap tidak mau aku akan benar- benar pergi dan bilang
pada ayah kalau kau lebih suka pulang sendiri lalu mampir ke tempat game box.
1...2..."
Seperti
terhipnotolis kata-kata Changmin Minjoo langsung naik dan memakai helmnya. Changmin
segera mengendarai motornya secepat mungkin. Ia tidak mau hujan turun disaat
dirinya masih dijalan. Selain karena udara dingin yang akan menusuk tubuhnya,
ia juga pasti akan direpotkan dengan adiknya yang cerewet ini. Dengan kecepatan
maksimal ia meluncur melewati jalanan kota Seoul yang saat itu sudah mulai
ramai.
Sedang asik
mengendarai motornya, tiba- tiba saja mobil dari
arah berlawanan mengambil jalannya. Untung saja ia bisa menghindar, namun tiba
tiba mobil dari arah kanan menghantam motor Changmin dan membuatnya terlempar
jauh ke arah sebaliknya.
Di tengah
ketenangan malam kota Seoul saat itu tiba- tiba
saja BUSSS mendadak menjadi ramai. Ambulance, wartawan, dan team lainnya tiba
tiba mengerubung seperti segerombolan semut. Malam itu, tepat pukul 07.15
berita tentang kecelakaan lalu lintas yang terjadi disekitar sungai Han, dengan
korban yang terlempar masuk ke arah sungai yang terkenal itu ramai diberitakan.
Dua orang korbannya terlempar masuk ke dalam sungai yang airnya terasa es itu.
Dua korban tersebut diketahui bernama Kwon Changmin dan Kwon Minjoo.
Sudah tak
terhitung berapa banyak air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. Kwon Yul,
hatinya sakit, sakit melihat anak anaknya seperti itu. Ia merasa menjadi ayah
yang gagal karena tidak bisa melindungi anaknya. Tubuhnya terasa remuk
mengetahui berita yang disampaikan oleh polisi. Tak perduli dengan orang orang
yang memandang iba kearahnya. Ia tidak ingin dikasihani, namun keadaanya saat
ini memang sangat memprihatinkan. Jeritan jeritan kecil yang keluar dari
mulutnya membuat hatinya semakin pilu. Beberapa asisten yang duduk disampingnya
bahkan ikut menangis mendengar tangisan malang pria yang mereka anggap tegas
dan sangat disiplin itu.
Isakan tak kunjung
berhenti keliar begitu saja dari mulutnya. Tak perduli sudah sebengkak apa
matanya. Bahkan air mata sudah tidak keluar
dari mata tajamnya.
"Oppa"
Ia mengikuti sosok
kakaknya dan mendapati Changmin berhenti di jembatan sungai Han. Minjoo tahu
yang sekarang ia lihat tidak dapat dilihat orang lain. Changmin dinyatakan
menghilang, dan sampai hari itu beberapa polisi sedang mencari jasad Changmin
yang belum ditemukan. Minjoo bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh
orang lain. Ia menjerit melihat Changmin yang pucat memandang kosong ke arah
sungai Han.
"Oppa"
Satu panggilan
lagi. Ia memandang intens ke arah wajah Changmin. Butiran air bening terliha turun dari mata
Changmin dan tiba- tiba Changmin membuka mulutnya. Ia
berteriak
"Minjoo!!!
Kwon Minjoo!!!!"
Ia berhenti
sebentar dan mulai mengeluarkan isakan pilu.
"Minjoo!!!!
Maafkan aku.... Maafkan aku Minjoo...."
Tangisan pecah.
Changmin tak sanggup menjerit lagi. Nafasnya sesak seiring turunya air mata
yang begitu deras turun melalu celah matanya. Wajahnya yang putih bersih
berubah menjadi merah.
"Tidak apa- apa. Justru aku yang harusnya minta maaf... oppa...
pasti kau sangat kedinginan didalam sana...oppa tunjukan wujudmu... kasihan ayah. Ia berusaha mati- matian mencari jasadmu"
Minjoo berlari ke
tempat Changmin berdiri, ia berusaha memeluk kakaknya itu
namun gagal. Tangannya bahkan tidak bisa menyentuh pundak Changmin yang
terlihat berat karena isakan.
Tak berapa lama,
Kwon Yul ayah mereka datang. Minjoo segera berteriak ke arah ayahnya.
"Ayah!! Changmin
oppa.... ia ada disini... ayah!!!"
Minjoo merasa
berhasil memberitahu ayahnya. Biasanya ayahnya tidak pernah percaya dengan apa
yang Minjoo lihat. Namun kali ini ayahnya mendengar perkataanya dan berlari
menuju Changmin.
“iya
ayah. Changmin oppa ada diditu”
Deg! Minjoo merasa
aneh. Tubuhnya seketika lemas sampai kakainya terasa tidak mampu menopang
tubuhnya sendiri.
Ada apa ini? Kenapa ayah bisa memeluk Changmin oppa?
Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Ayah.... ayah... apa ayah bisa
melihatnya juga? Ayah bisa melihat Changmin oppa? Bahkan ayah bisa memeluknya.
Ayah tolong aku.. aku mau memeluknya
juga..
"Changmin...
Changmin ayo kita pulang ..."
Minjoo merasa
semakin bingung. Apa ayahnya juga bisa berkomunikasi dengan Changmin? Minjoo
yang sudah menjerit sedari tadi bahkan seperti tak terdengar di telinga Changmin.
"Changmin...
ayo kita pulang... jangan seperti ini... ayah akan merasa semakin hancur. Tuhan
sangat menyayangi adikmu, ia memanggil adikmu lebih dulu karena Tuhan sangat
menyayanginya"
Deg! Apa? Ayahnya
bilang apa barusan? Tuhan memanggil adiknya lebih dulu? Apa maksudnya? Minjoo
masih disini, bahkan masih bisa menangis, bahkan masih bisa menjerit walau tak
terdengar, bahkan ia masih bisa merasakan nafas berat ayahnya. Minjoo terkapar
di jalanan Seoul yang dingin. Di depannya ayah dan kakaknya ternyata sedang
menangisi dirinya. Sedangkan yang Minjoo kira adalah kakak tersayangnya yang
meninggal dan belum ditemukan jasadnya. Minjoo terkulai lemas, namun ia mencoba
bangkit dan memeluk ayahnya dengan percuma. Tubuh Minjoo menembus tubuh
ayahnya. Tapi ia bisa merasakan getirnya air mata yang sedari tadi membasahi
pipi ayahnya.
Ayah.... Changmin
oppa.... jangan sedih... aku akan tetap berada di hati kalian.... Changmin
oppa, ini sepenuhnya bukan kesalahanmu.. Apa yang ayah katakan benar... Tuhan
sangat menyanyangiku. Dan kau tau, Tuhan mempertemukan ku pada ibu.. Jangan
menangis lagi... Aku sayang kalian..
Untuk beberapa
saat, bisikan gaib itu terngiang di telinga Kwon Yul dan Changmin. Entah dari
mana datangnya, suara menenangkan, suara yang sangat mereka rindukan itu
terdengar ditelinga mereka. Dan tiba tiba saja dua sosok bayangan, dua sosok
wanita, wanita paling cantik bagi mereka tersenyum manis seakan mengatakan
"Don't cry.. I'm always here with you"
Seoul, February
21, 2014
Dikabarkan sesosok
mayat ditemukan di tepi Sungai Han. Mayat tersebut dipastikan bernama Kwon Min
Joo. Seorang korban kecelakaan yang terjadi tiga hari yang lalu. Anehnya, jasad
korban sama sekali tak membusuk. Mengingat selama tiga hari dirinya dikabarkan
menghilang di Sungai Han. Jasad yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap
ini tidak ditemukan selama tiga hari, team yang mencari jasadnya pun dibuat
bingung karena mereka yakin telah menjelajahi daerah sekitar dirinya ditemukan
tenggelam. Namun, keluarga korban kini sudah mulai tenang dan bisa menerima
kepergian salah seorang keluarga mereka.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar